Tampilkan postingan dengan label Autograf 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Autograf 3. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 16, 2010

Musim Ini...

Photobucket


ia
hanya mengenal musim
ketika daun dan ranting berguguran
karena sebentar lagi kekasihnya datang
membawakannya hujan. lalu selalu akan ia
taburkan di padang-padang
maka tanah perbukitan itu kembali hijau penuh senyum rerumputan.

ia menari bersama hujan. mencumbu bunga-bunga
yang bermekaran

musim ini
ia masih berdiri termangu di bibir jalan
sudah hampir dua pekan. saat matahari bangkit
ia bersiap-siap. disisirnya rambut hitamnya yang panjang.
Dikenakannya gaun putih awan
yang menjuntai hingga mengusap kerikil jalanan.

waktu terus merambat
matahari tegak di atas kepala
tapi tak ada titik hitam bergerak di kejauhan
sebagai pertanda kedatangan

sore
saat matahari pulang
ia masih tegak berdiri di bibir jalan
menunggu hingga larut malam
karena inilah saat terakhir yang dijanjikan

malam tak lagi penuh bintang
juga derik serangga
hening seperti pekuburan. terasa menyakitkan.
angin mendesing mengasah ribuan mata pisau
berkilat-kilat tersapu cahaya bulan

hingga malam menelan semua bayangan

kekasihnya tak kunjung datang

sayup-sayup terdengar gemuruh
lalu tanah tanah, daun daun, bunga bunga, basah dengan air mata

~ Thiya Renjana ~
12022007, 09:20 PM

Kita Hanya Tak Tahu

Photobucket

Purnama,
lalu kita susuri sunyi
dengan gemuruh ombak pasang
pada pasir, batu-batu, debu, angin, gerimis
mengais kata-kata yang tak sempat terucap
tentang rindu nelayan pada laut
rindu peziarah pada makam

Purnama,
mata kita tersesat di rimba suara berabad-abad
tapi ada yang terus memanggil, lirih
sesekali kita palingkan wajah, mencari
tak ada, dan kita makin karam
dalam keangkuhan kita sendiri
tak tahu arah kembali

~ Thiya Renjana ~
12022007, 09:02 PM

Karam

Photobucket

Aku karam dalam sunyi
lagi,
tlah kujelajahi sluruh
lorong tak berpenghuni
namun,
tetap saja sepi tak mau undur diri
seperti memotong semua sendi-sendi
Aku tak ingin kau tahu
besarnya cintaku
Tatap saja,
kesunyian keheningan di sini
ada riuh ada gemuruh
memencar dari dadaku
Apa artinya gelap tersiba
ketika kau tak bisa nyata menghadap
sungguh apalah artinya
saat kau hanya bisa kusebut dalam lirih
karena kau adalah badai di laut
tak boleh berpusar di padang pasir
sebelum kau kuanggap asing
biarkan kumiliki
sekejap di khayal dan imaji

~ Thiya Renjana ~
21022007, 11:40 WIB, mendung

TANYA

Photobucket


Kutangkap selembar kenang yang melintas
dari sobekan kertas usang di sudut angan
rinduku selalu jadi tirai berlapis-lapis
dan ketika mencoba mengingat
aku selalu gagal melukis wajahmu dalam kata-kata
dimana satu-satu berguguran abjadnya
dan yang tersisa hanya
?
hanya
?

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 2006

Wahai kecemasan

Photobucket

Menadah sisa tempias hujan
Bulirnya menyejukkan raga kelelahan
tapi dinginnya tak mampu redakan tangisan
Tahukah kau, wahai kecemasan?
Telah pupus punah purna segala kisah
Jadi pergilah!
Akan kucoba rentang bahagia
di atas lembaran yang masih tersisa

~ Thiya Renjana ~
12022007, 10:44 WIB

Di debur laut

Photobucket

Kugapai cintaku di
debur laut.
Kusematkan di singgasana
kalbu.
Lalu kuperhatikan..
Ia berkembang
Walau tak kusiram

~ Thiya Renjana ~
29122006, 20:54 WIB

Dari keterasingan merawat sepi

Photobucket

Hari ini, kau renggut aku dari keterasingan merawat sepi
Kau lalu pergi,
setelah hilang petualanganku menaklukkan mimpi
Memetik sepi dan menuainya dengan penaku
Potret-potret tua di dinding retak, gegap memaki
karena sukmaku kembali
dengan jari-jemari yang tetap membeku

~ Thiya Renjana ~
29122006, 14:05 WIB

Hanyalah Obituari

Photobucket


Kontemplasiku menghasung khayalan terserak
Yang kukira adiwarna
Ternyata hanyalah sepah tiada nama
Yang kusangka adnan
Ternyata taman kaktus berduri
Yang kutulis
Ternyata hanyalah obituari...

~ Thiya Renjana ~
29122006, 07:32:56

Hujan, adakah yang ingin kau sampaikan?

Photobucket


Hujan, adakah yang ingin kau sampaikan?
Untuk hatiku yang malang
Meminta gerimispun tak kau berikan
Malah kau curahkan lebatnya badai taufan
Hujan, adakah kau merasakan?
Di sini Dewi begitu mengkhawairkan Dewanya
Ia rela mati, ia rela ditinggal pergi
Asal sang Dewa pujaan hati temukan kedamaiannya yang hakiki
Hujan, takkah kau iri hati?
Deras rinaimu terkalahkan air mataku
Yang tak berhenti membadai dengar Dewanyatak jua letih menangis
Curahan kabutmu terkalahkan debur resahku
Yang tak usai melihat Dewaku rapuh dan kuyu
Hujan, benar kau hanya datang dan pergi dengan beitu saja
Tapi kau telah jadi saksiku dalam perjuangkan cinta
Kini hatiku hanya bisa diam tertusuk sembilu tanpa ragu
Kuingin pinta pada Tuhan
Jadikan saja aku sebagai arca batu
Yang selalu bergetar menahan pilu

~ Thiya Renjana ~
23 Januari 2007, 09:05 AM

Selasa, Juni 15, 2010

Tidak mudah

Photobucket



Biarkan aku melepasmu dengan kerelaan
Membiarkanmu kembali terbang
dengan sayap-sayap patah yang tak berhasil kusatukan
Saat pertemuan adalah janji
Dan berpisah adalah tunainya

Tak usah kau meragu
Tiada guna lagi menoleh pada beku
Kan kubiasakan hatiku dengan tembang sendu
Cukup doakan saja diriku
Semoga dapat tetap teguhkan raga
untuk dongakkan kepala
Membuka mata
dan menatap bentangan jalan di muka
Karena kita telah sama-sama tahu;
memang tidak mudah...


 ~ Thiya Renjana ~
25122006, 07:56:04
Tempat biasa, bangku kelas

Kembalikan yang kau curi

Photobucket

Sepucuk kenang terjatuh peluh
Ingati tentang dirimu yang
kembali hadir mengusik.
Kini untuk sekian kalinya aku memohon.
Tolong kembalikan hatiku
Yang kau curi lewat tatapmu...

~ Thiya Renjana ~
27 Nov 2006

Senin, Juni 14, 2010

Sosokmu menjahir dalam lamun

Photobucket

Di mataku malam seperti beku. Tak ada senyum pada wajah rembulan pun bintang-bintang. Dan angin hanya menyisakan pekat rasa kangen di sukma. Tak ada yang tahu kalau di mataku semuanya berganti wajahmu. Kang Mahbub bicara malah terlihat kamu yang berkata. Dia tertawa malah tamamu yang tampak di sana. Apakah aku buta? Tak ada kebohongan pada desiran waktu yang lewat selain bayangmu yang terus berkelebat melekat. Tak ada hal sempurna di dirimu yang memberi kelayakan memenuhi pelupuk dan tak ada yang salah seperti kerinduanku pada laut. Lagi-lagi aku menjadi puteri mimpi. Kerjaannya hanya melamun dan melamun lagi. Tapi satu-satunya yang hadir hanya sosokmu menjahir dalam lamun. Tak pernah kutersentak seperti bayangmu yang tak henti menjejak.

~ Thiya Renjana ~
Ruang Aula lantai II PPRU I Pi
30112006,00.00 WIB

*) Dibacakan Kang Mahbub dalam acara Workshop Kepenulisan Bersama Matapena I

Seandainya dapat dibui

Photobucket

Seandainya rindu dapat dibui
Kuingin kau jerat saja rasaku
Biarlah tak lagi kuingat dirimu
Hingga tenang kembali hariku

Karena kutahu
Dirimu tak pernah acuhkanku
Rindumu bukan untukku
Dan asamu adalah pergi menjauh

Biarlah aku kembali lebur dengan gulita
Satu-satunya mentari yang kukenal terlalu tinggi untuk sadar ku ada
Aku telah lupa
Apalah artinya batu dibanding kejora

Maafkan aku sang serenada kasih
Memaksa nada ini kau dendangi
Tak kan lagi kuulang kebodohan kedua kali

--12122006,15:18:25--
Jam Privat Sore

Ah biar saja

Photobucket

ah biar saja, kenapa mesti malu
Ia yang memberiku pikiran
melihatku membayangkan wajahmu diam-diam

melukis wajahmu pada bayangan bulan
yang berenang di telaga
sambil menatap awan-awan, laut, bintang-bintang
atau ketika duduk di pinggir jalan
kau pasti tak mengerti
ketika kutulis sajak cinta dari kilau embun di tepi daun
atau dari semburat warna merah lembayung senja

ah biar saja, Ia yang memberiku rasa
Melihatku menangis di tikar sembahyang di malam kelam
aku hanya sedang belajar mencintaiNya

--12022007,09:11 PM--

Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Thiya's Plurk
Daftar Isi
   Koridor Silaturahim Semesta Sajak Renjana