Tampilkan postingan dengan label Pujangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pujangga. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 25, 2011

Neraka Dunia

Ah, barangkali Kinanthi benar. Mencintai seseorang yang layak dicintai namun tak pernah engkau miliki adalah neraka dunia. Parahnya, aku pernah merasa memilikimu dan karenanya aku pasti kehilanganmu. Sesungguhnya tak ada manusia yang benar-benar sanggup menghadapai kenyataan. Kita hanyalah berusaha kelihatan tegar, mencoba memindah-mindah titik, tapi tak pernah benar-benar memilih nasib. Jika tanpamu adalah senyatanya kepedihan, bukankah hal itu telah benar-benar kulakukan?

~ Bahauddin Amyasi ~

Rabu, September 21, 2011

Pesan Singkat Kak Baha

Jika muasal kita adalah ketiadaan, mengapa kehilangan kerap terasa begitu menyakitkan? Waktu seolah berderap terlampau cepat, dan denyut hasrat kita kian sekarat...
31/08/2011-04:13PM

Ah, sebab rindu kerap tak mau tau bagaimana dua kalbu harus bertemu. Wajahmu tiba-tiba menyatu di awan biru. Angin merapal senyummu yang kian sendu. Bagaimana aku bisa melupakanmu?
31/08/2011-07:07PM

Selama nadi hidup masih berdenyut, isu adalah angin yang akan selalu kita hirup. Terasa sesak, tapi disitulah kita belajar bahwa hidup bukan melulu soal tawa dan gelak. Yang paling mudah dilakukan mungkin adalah berdoa, karena di seberang luka selalu ada bahagia. Seperti kudoakan untukmu. Selalu.
08/09/2011-06:41AM

~ Bahauddin Amyasi ~
via pesan singkat mobile

Jumat, September 09, 2011

Ini Cinta

Ada saatnya yang terbaik untuk dilakukan hanyalah benar-benar diam.
Tertawa sendirian, membincangi denyut ingatan dan mimpi usang yang terlanjur keterlaluan.
Mereka mengataiku gila, tapi ini benar-benar cinta.
Mereka menganggapmu fatamorgana, tapi sungguh engkau begitu nyata.
Engkaupun mulai tak percaya, bagaimana bisa?

~ Bahauddin Amyasi ~

Rabu, Juli 20, 2011

Engkau Tahu?


Engkau tahu? untuk membuat puisiku menderu,
aku hanya butuh memandang kejap senyummu lebih dulu.
hingga angin mampu membinarkan detak rindu,
di jantungku namamu kian bertalu-talu.
engkau tahu? sebab senyummu kadang benar-benar keterlaluan,
ia kerap membuatku syakau sendirian.

~ Bahauddin Amyasi ~
Surabaya, 19 Juli 2011

Selasa, Juni 14, 2011

Beberapa Sajak Sapardi Djoko Damono



Di Restoran
oleh Sapardi Djoko Damono

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras --

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.


AT THE RESTAURANT

It was just the two of us, sitting. I ordered
waving grasses and wild flowers --
I don't know what you ordered. I ordered
stones on a bed of swirling rapids --

I don't know what you ordered. But it was just the two of us,
sitting. I ordered
pitiless and piercing pain
then ordered, as well, that alien hunger

[1989]




Hujan, Jalak dan Daun Jambu
Oleh Sapardi Djoko Damono

Hujan turun semalaman. Paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
Mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba
Tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita manusia, merasa bahagia.
Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara,
Tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia



Sajak Desember
Oleh Sapardi Djoko Damono

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. ada yang terbaring
di kursi letih sekali

masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu

1961

Senin, Juni 06, 2011

Taken From "Filosofi Kopi"


Seindah apa pun huruf terukir,
dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? 
dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

— Dewi Lestari (Filosofi Kopi)

Selasa, Mei 31, 2011

Hujan Bulan Juni


oleh: Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
 
ditulis ulang oleh Thiya Renjana
Bandung, 01 Juni 2011
bertepat Hari Anak Internasional dan Hari Lahir Pancasila

Senin, Mei 30, 2011

Diorama Cinta


 Sebab hujan selalu rinai di matamu dengan gerai yang sama, 
biarlah rindu ini mengajariku diorama cinta
; derap pasrah yang meruncing tajam tanpa iba...

 ~ Bahauddin Amyasi ~
31052011M - 00:15AM

Sebuah Nama Dari Seberang (Jarak)


 Meski kita begitu dekat, namun aku tak pernah bisa menghitung jumlah detak jantungmu atau sekedar melukiskan senyum bibirmu dalam uraturat lamunku.

haruskah kita saling menggilai harapan, yang tibatiba menjelma menjadi rindu, lalu sepi.

semetara jarak begitu menggilai perpisahan, seperti gilanya malam pada bintang atau gilanya pagi pada mentari, agar kita tak saling melukai lalu perlahan-lahan saling melupakan.

oh Tuhan...
"seandainya waktu bisa diputar kembali,aku memilih untuk tidak mengenalmu" pintamu

"seandainya waktu bisa diputar kembali,aku memilih kita dilahirkan tanpa jarak" pintaku

walau kadang kita gugup mengeja huruf demi huruf harapan. semoga jarak tak pernah lupa menuliskan huruf demi huruf sebuah nama, sebuah nama yang tlah memberi banyak kenangan.

namamu dijiwaku dan namaku dijiwamu.

~ Muhammad Bushro ~
30052011 - 18:58PM

Selasa, Mei 17, 2011

Kata Patah


Jika dirimu merasa semua yang ada tak seperti yang diinginkan.
Maka bersyukurlah, karena dirimu masih bisa merasakannya.
Karena tidak ada lagi obat untuk sembuh dan sukses,
selain keoptimisan itu sendiri

~ Syahroel Kariem ~
17052011

Senin, Mei 16, 2011

Rumah Nan Bahagia, karya Jend. Soedirman


Seperempat abad lamanya
tegak berdirinya hingga kini
panti rapih rumah nan bahagia
naungan putra pertiwi

orang sakit nan menderita
gering tiba,sehatlah pergi
berkat kegiatan usaha
beserta kesucian hati

Selama tegak dengan teguhnya
Besar jasanya hingga kini
Seluruh pengurus pegawainya
Ikhlas serta jujur pekerti

Sambil baring aku berdoa
Tuhan Allah Yang Maha Suci
Limpahkanlah berkat kurnia
Atas rumah bahagia ini

Moga kiranya terus nerjasa
Dulu, kini dan hari nanti
Untuk masyarakat Indonesia
yang tetap merdeka abadi

"Untuk masyarakat Indonesia yang tetap merdeka abadi"

~ Panglima besar Jendral Sudirman ~

Sajak yang dikarang oleh Jend.Sudirman sendiri saat beliau sedang dirawat di RS. Panti Rapih Yogyakarta karena menderita penyakit TB. Sajak ini merupakan wujud terima kasih beliau terhadap para pegawai di rumah sakit tersebut yang sudah merawatnya.
Sumber: Majalah Intisari

Jumat, Maret 04, 2011

Selamat Ulang Tahun, Thiya....


”....dan, sesekali terasa, kelahiran adalah sebuah cangkir kehidupan di setiap pintu musim semi tiba, disuguhkannya beranda malam, beranda hari-hari dengan beraneka warna dahaga hidup dan berulang kali meneguknya : entah-sampai hitungan keberapa, dan adakah aromanya telah mengucapkan sesuatu yang berharga ? sebelum tak sempat lagi menagih satu tegukan untuk tegukan berikutnya. dan yang berharga adalah ketika tangan-tanganmu sanggup menjabat tangan mimpi dengan mesra, ya, dengan mesra ! sebab ia, tangan-tanganmu, tak lagi terpenjara pada garis melengkung atau memanjang pada kedua telapaknya, ia, tangan-tanganmu, adalah lidah yang lain, yang akan berucap pada langit tentang segala apa yang kau pinta, ia, tangan-tanganmu, dicipta dengan satu tugas : bekerja keras membangun bahagia, meski malam akan merahasiakannya ! dan sesekali tidak ada kerugian yang menyelinap diantaranya, sebab, ia, tangan-tanganmu adalah ucapan kata dan doa yang menjelma di depan wajah aslinya...

Selamat Ulang Tahun, adikku yang terindah.....”

05.03.2011

Minggu, Februari 06, 2011

Yakinlah...


‎... Jikapun kamu telah dijodohkan orang tuamu, lalu kamu menikah, maka ketahuilah, sebenarnya Tuhan yang telah menjodohkanmu, bukan orang tuamu. Sungguh Tuhan tak pernah salah pilih ...

‎... namun jika engkau tak berkenan dengan perjodohan itu, maka pilihlah orang yang kamu cintai dan menikahlah dengannya bagaimanapun caranya (dgn ma'ruf) sebab nabi pun membolehkan yang demikian (buka lagi shohih bukhori dan muslim). dan Tuhanlah yang menjodohkan kalian. sungguh Tuhan tak pernah salah dalam menjodohkan ...

‎... al-yaqiinu laa yuzalu bisy-syaak ... jika engkau sudah yakin, maka seribu ragu pasti akan datang menderu, untuk itulah kaidah ini datang padamu, supaya jelas ke mana kau muarakan hatimu; ke rasa yakinmu, bukan ke keraguanmu. agar hidup ini mudah. agar hidup ini indah. bismillah ...

~ Zaki Zarung ~
06022011 - 07022011

Selasa, Januari 11, 2011

Dalam Doaku



Dalam Doaku
(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Rabu, Desember 29, 2010

Best poem of the year versi saya :)


Apa yang sungguh bisa aku lihat darimu
Wahai pemuda yang datang meminta anakku
Pasti bukan tampanmu
Tidak, sama sekali tidak
Tak tertarik aku untuk tahu berapa hartamu
Pula gelar atau kepandaianmu

Lalu apa yang berharga darimu?
Kesungguhanmu untuk menjadi
Imam bagi putri sulungku
Bahwa kau akan nakhodai
Biduk rumah tangga
Berlayar dalam lautan jihad
Berjuang meraih ridha  Allah
Untuk berlabuh pada jannah

Lagi

Apa yang sungguh-sungguh dapat dibanggakan darimu?
Tentu bukan
Berapa berkilat mahar emas perakmu
Justru
Tekadmu untuk menjadi mulia dengan memuliakan isterimu
Berbahagia dirimu karena membahagiakan belahan jiwamu
Kesadaranmu untuk akui kekuranganmu
Yang menyiapkanmu menerima ketidaksempurnaan permata hatiku

Ia  pendamping hidupmu
Tak hanya di cantik mudanya
Tanpa beda sedikit pun pada saat  pudar cahaya di senja usianya
Janji bahwa kau mencintai ia ketika  sehat berlari riang bertualang bersamamu
Tapi  tetap kau genggam  sayang tangannya dalam sakit lemahnya

Jadi

Apa yang mata hatiku akan teropong tajam dirimu?
Cita-citamu  untuk anak-anak yang lahir kelak
Bila asma Allah semata pertama kau perdengarkan di telinga suci mereka
Bila lantunan Alquran adalah abjad awal yang kau ajarkan
Bila berani, bangga, dan bahagia ber-Islam kau tanamkan
Pada cucu-cucuku yang diamanahkan padamu

Maka, untuk semua itu
Bismillah…
Cukuplah alasan bagiku
Untuk mengikut  ucapan  Nabiullah, Kekasih Allah
Saat menyambut Ali yang mulia
Meminang Fathimah  binti Muhammad

:  “Marhaban wa Ahlan…”

(oleh ibu Dumillah Ayuningtyas, ibunda azka madihah kepada menantunya ahmad dawamul muthi)

Selasa, Desember 28, 2010

Menuju Ke Kotamu


menuju ke kotamu
sengaja kususuri jalan lebih jauh
memulai belajar
kali-mengalikan rindu
tetangkai rose
yang harus kutabur di tiap jengkal rel kereta

ini perjalanan terusang
dari paling terasing
yang pernah kulalui
bersama genangan-genangan kenangan
tentangmu

ketika jendela-jendela kereta retak
terpalu pilu
sedu sedan tangis hujan
Semoga di tanganmu tetap melekat
cawan suci, pemapah air mata

sebab melaju, menuju ke kotamu
aku membawa suka
juga duka yang tak mampu kudaki

hingga kau datang
menuntunku melantun rindu
di bibir senja, di stasiun itu

[asmara sahara]

Kamis, Desember 23, 2010

Lukisan Cinta

Photobucket

Pelukis terhebat di muka bumi ini adalah cermin
Ia begitu jujur
Menampilkan gambar dirimu dengan persis
Namun sayang sehebat-hebatnya cermin,
Ia tidak bisa melukiskan dirinya sendiri.

Apabila sang Cinta melukis,
Lukisan itu akan tampak begitu indah mempesona.
Namun sayang,
Sang Cinta juga tak dapat melukiskan dirinya

Lalu...

Seperti apakah lukisan cintaku?

*) Ari Maulana

Kamis, September 02, 2010

Tentang Hidup


1.
Dari detik ke detik dada berdetak
Memukulkan bertubi godam kerja dan Kasih.
Tiap kali hati menjawab, "Maut ku tolak!".
Diseretnya beban hidup, dan makhluk merintih.

2.
Kerja sehabis tenaga dan sisanya untuk cinta.
Anak terlahir antara letih dan tak sengaja
Dia pun tumbuh, mengulang riwayat ibu dan bapa,
Dia pun hidup dan tak tahu Hidup yang sebenarnya.

3.
Orang tua berkata, "Jadilah bijaksana,
Hindari kejahatan, carilah keselamatan."
Si anak berpikir, "Dia melarat bikin aku celaka!".
Maka larilah ia mengejar kekayaan.

4.
Bayi lahir menangis, anak dara meratapkan asmara.
Istri dimadu tak terbujuk air matanya
Janda tua meringkuk, tak berdaya, tak berharga.
Baru dimakamlah jenazah tertawa!

5.
"Jalan raya lempang ini untukmu bersenang - senang !"
"Tidak! Aku menyimpang! Aku perambah jalan!"
Dia terperosok dan jatuh ke dalam jurang.
Pekiknya terakhir, "Aku bahagia! Aku orang kenamaan!"
meratap derita orang, Ramadhan kali ini

Kamis, Juli 22, 2010

“Madura, Akulah Darahmu”




“Madura, Akulah Darahmu” seutuhnya
Di atasmu, bongkahan batu yang bisu
Tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
Biar berguling di atas duri hati tak kan luka
Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu
Dan aku
Anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
Kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
Bahwa aku sapi kerapan
Yang lahir dari senyum dan airmatamu


Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
Sebasah madu hinggaplah
Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
Emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua


Di sini
Perkenankan aku berseru:
- madura, engkaulah tangisku


bila musim labuh hujan tak turun
kubasuhi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi kerapan
yang menetas dari senyum dan airmatamu
aku lari mengejar ombak, aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang-gemintang
di ranting-ranting roh nenekmoyangku


di ubun langit kuucapkan sumpah:
- madura, akulah darahmu.


(D. Zawawi Imron, 1996)

Sabtu, Juli 17, 2010

Kepada pujangga Dunia

Photobucket              

Seperti burung laut, dengan liurnya
Dibuatnya sarang permai
Di gua, di tubir pantai
Tempat diam terletak telurnya
Tempat pecah merekahnya, melahirkan isinya
Tempat  anaknya menciap-ciap: berharap,
Datang orang mengambil sarang,
Untuk obat, khasiat mereka.

Demikianlah, pujangga dunia,
Engkau, dengan perkataanmu,
Kau gubah ciptaan indah,
Tempat tersemat perasaan hatimu
Membual, membersir, mekar kembang
Diterima orang, dirangkum, dipegang
Untuk pedoman, teladan mereka

*) Abu Faris al-Iskandar

Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Thiya's Plurk
Daftar Isi
   Koridor Silaturahim Semesta Sajak Renjana