Tampilkan postingan dengan label Penyair Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyair Sufi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 29, 2010

Nizar Qabbani : Antara Tragedi, Cinta & Pengasingan

Oleh Irfan Zakki Ibrahim
taken from Afkar NU Mesir 


Photobucket


“Nizar, kau benar-benar sesuatu yang baru dan asing dalam dunia kita!
(Fuad Anjaini, Menteri Pendidikan Syria)
  
Apapun bentuknya, seluruh puisi Arab modern, pada dasarnya adalah klasik. Benar bahwa beberapa dekade terakhir, para sastrawan Arab telah berupaya melakukan eksperimentasi massif untuk melepaskan diri dari belenggu tradisi yang rigid dan memaksa. Namun fakta menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya terlepas dari konvensi sastra klasik. Puisi-puisi Arab modern masih menggunakan bentuk bahasa dan pengucapan klasik (fushhah). Padahal, realita modern menunjukkan semakin terbentangnya jarak antara penggunaan bahasa Arab fushhah dengan kebahasaan sehari-hari. Hal ini merupakan akibat dari kian terdiferensiasinya bahasa Arab dalam berbagai macam dialek, dipengaruhi perbedaan–geografis, politis, dan kultural.


Kondisi terkini memperlihatkan bahwa bahasa Arab fushhah kian termarginalkan. Fushhah tumbuh menjadi bahasa yang lingkup penggunaannya terbatas pada dunia formal; pendidikan, administrasi kenegaraan, serta ragam tulis. Jarak antara bahasa keseharian dan bahasa fushhah ini tentu menyebabkan munculnya potensi keterasingan puisi atau gaya ungkap puisi modern dari lingkungan sosiologis. Akibatnya, puisi kian sulit dipahami, terutama oleh orang-orang yang berada di luar lingkungan tempat bahasa fushhah digunakan.


Jika dilihat dalam konteks ini, maka penting untuk membicarakan eksperimentasi dan capaian estetik Nizar Qabbani, penyair Syria yang terpaksa bermigrasi ke Inggris karena tekanan dari pemerintahan yang represif. Sebagian karyanya, antara lain yang terkumpul dalam antologi-antologi seperti Habâbati, Qâlat li al-Samra, Anti Li, menunjukkan adanya eksperimentasi untuk menggunakan ungkapan-ungkapan populer tanpa terjebak dalam bahasa Arab pasaran (‘âmiyah). Novelis Mesir, Gamal Gittani, berujar, “Nizar memberikan kemajuan besar pada dunia perpuisian Arab karena ia berhasil membuat puisinya dipahami oleh semua orang, bukan hanya kelompok-kelompok tertentu.”


Hal lain yang membuat puisi Nizar tampak istimewa adalah pilihannya pada tema cinta. Dengan tema ini ia menjadi salah satu penyair paling dikenal publik sastra Arab, bahkan oleh kaum perempuan Arab yang selama ini asing dari dunia puisi. Berbeda dengan tema cinta dalam puisi-puisi klasik yang cenderung primitif, penuh dengan kenangan dan ratapan, mendayu-dayu, serta kurang menampilkan visi pribadi, tema cinta yang diangkat Nizar Qabbani sangat bertolak belakang. Dengan strategi literernya yang berusaha mendekatkan puisi pada massa umum, Qabbani meniupkan vitalitas baru pada tema-tema percintaan. Puisi cinta Qabbani adalah puisi yang sederhana, langsung, jelas, kadang sedikit erotis namun tetap menyimpan kedalaman emosi. Bahasa keseharian diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan efek-efek tertentu dalam puisi-puisi cintanya. Gabungan kedua hal ini membuat puisi-puisi Qabbani kerap dipakai sebagai lirik para penyanyi Arab mulai dari Umm Kultsum dan Farid al-Atrash hingga penyanyi-penyanyi dari generasi yang lebih muda seperti Magda Roumi dan Kazeem el-Sahir.


Selain percintaan, Nizar Qabbani juga piawai dalam mengolah tema-tema politik. Pergeseran tema Nizar ini terjadi sejak kekalahan yang diderita negara-negara Arab pada Perang Arab-Israel tahun 1967. Dengan puisi-puisinya, ia mengkritik para penguasa negara-negara Arab yang ia nilai hanya berani melawan rakyatnya yang lemah.


Nizar Qabbani dan Kehidupannya: Di Balik Pengasingan, Petualangan, dan Tragisme
Nizar Qabbani lahir di Damaskus pada 21 Maret 1923. Sejak kecil, ia tumbuh dalam keluarga yang lekat dengan diskusi-diskusi politik. Ayahnya, Taufiq Qabbani, adalah seorang pedagang sukses sekaligus aktivis kemerdekaan Syria. Ketika Syiria dijajah oleh Prancis (1920-1946), ayahnya rajin mengorganisir pertemuan para tokoh nasionalis dan memberi donasi bagi gerakan perlawanan. Tak jarang, rumahnya menjadi tempat pertemuan sekaligus perlindungan para aktivis politik yang diburu oleh Prancis. Namun, aktivitas ini berujung pahit ketika ayahnya diseret ke dalam penjara oleh otoritas Prancis.


Tragedi kehidupan Nizar dimulai ketika berusia 15 tahun. Saat itu, kakak perempuannya bunuh diri karena menolak dinikahkan dengan lelaki yang tidak dicintainya. Ini merupakan peristiwa luar biasa dalam konstruk sosial Arab waktu itu. Dalam masyarakat Arab yang patriarkis, sosok ayah merupakan pusat kehidupan keluarga. Ia memegang otoritas penuh atas anggota keluarga lain. Jarang terjadi perlawanan dan penyangkalan terhadap kuasa dan otoritas ayah.
Dalam kasus keluarga Nizar, keputusan kakak perempuannya untuk bunuh diri adalah satu bentuk eskapisme dan penentangan yang mencerminkan keinginan memberontak. Kebebasan yang terenggut harus ditebus meskipun dengan jalan mengorbankan kehidupan itu sendiri. Semangat inilah yang diserap Nizar dan kemudian ditransformasikan dalam karya-karyanya. Penghargaan tinggi terhadap kebebasan, misalnya, dapat kita jumpai dalam salah satu puisinya yang berjudul Ankahtuki Yâ Ayyatuha al-Hurriyah.


Kematian kakaknya ini juga mendorong kesadaran Nizar untuk lebih memperhatikan problema perempuan, cinta, pemberontakan, serta membentuk sensitivitas tersendiri dalam kehidupannya. Dua hal, perempuan dan cinta, menjadi tema utama dalam karya-karya awalnya sementara semangat pemberontakan menjadi ruh yang ada dalam setiap karyanya. Cinta, menurut Nizar, tidak akan pernah bisa tumbuh dalam sebuah lingkungan yang penuh dengan tekanan.


Bagaimana aku bisa mencintaimu, kekasihku
Jika agen keamanan nasional
Memenjarakan impian
dan mengirim
orang-orang yang dipenuhi gairah
ke pengasingan

(Sajak Tulisan di Pengasingan)


Bagi Nizar, kebebasan, kesetaraan, dan kehormatan merupakan syarat mutlak bagi tumbuhnya hubungan cinta yang sehat antara dua orang. Jikalau syarat-syarat ini tidak bisa diwujudkan, maka jalan satu-satunya adalah memberontak atau menjauh dari sistem yang tidak bisa menjamin kebebasan dan kehormatan manusia.


Bukan hanya bunuh diri kakaknya yang menjadi pengalaman pahit dalam hidup Nizar. Umar, anak lelakinya, meninggal ketika tengah kuliah kedokteran di Mesir, sedangkan istrinya, Balqis al-Rawi, seorang wanita Irak, terbunuh ketika perang sipil tahun 1981 berkecamuk di Libanon.


Kesan kematian anaknya dituangkan dalam Ila al-Amîr al-Dimashqi Tawfîq al-Qabbani (Untuk Taufiq Qabbani, Sang Pangeran Damaskus). Sedangkan untuk mengenang istrinya, Nizar menulis Balqis, puisi paling rumit dan emosional yang pernah ditulisnya.


Meski peristiwa tragis kerap kali hinggap dalam hidupnya, namun pada akhirnya Nizar berhasil menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Syria pada tahun 1944. Satu tahun kemudian, ia diangkat sebagai diplomat Syria di Mesir hingga tahun 1948. Dari Mesir, karir diplomatiknya meluncur ke Turki dan akhirnya berakhir sebagai Konsul Syria di London, Inggris, tahun 1952. Di sinilah Nizar berkenalan dengan kesenian, budaya, dan gaya hidup Eropa. Pada tahun 1966, ia memutuskan berhenti dari Dinas Luar Negeri Syria dan tinggal di Beirut untuk mempersembahkan hidupnya pada satu-satunya hal yang dicintainya; puisi.


Di Beirut, aktivitas kesenian Nizar mengalami peningkatan yang luar biasa. Di kota ini, puisi-puisi Nizar menjadi lebih politis. Kesadaran politiknya tergugah ketika menyaksikan kekalahan bangsa Arab dalam Perang Arab-Israel 1967. Ia terus menulis tentang kekalahan Arab dan melontarkan kritik keras pada Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dengan mengatakan bahwa Nasser telah menggiring bangsa Arab ke jalan yang salah. Pada tahun 1967, Nizar menerbitkan salah satu masterpiece-nya Hawamisy ‘ala Daftâr al-Naqsha (Margin Buku Catatan Kekalahan) yang dilarang terbit di Mesir. Tahun 1977 karya-karyanya kembali dilarang beredar di Mesir akibat kritik kerasnya terhadap kunjungan Presiden Anwar Sadat ke Israel. Dalam puisinya Min Yaumiyat Bahiya al-Masriyya (Dari Diary Bahiya, Si Orang Mesir) ia menyebut Sadat sebagai agen Israel gila yang memperkosa Mesir.


Pertikaian Nizar dengan para pemimpin Arab terus berlanjut. Tahun 1970 giliran Raja Husain dari Yordania mendapat kritikan Nizar karena membantai orang-orang sipil Palestina yang tinggal di Amman saat terjadi Perang Yordania-Palestina. Sementara itu, meski ia tak berkonfrontasi dengan pemerintah Saudi, namun puisi-puisi cintanya dilarang beredar di Saudi karena dianggap amoral dan sehingga tidak pantas dibaca oleh orang Muslim.


Dekade 1970-an adalah masa-masa di mana Nizar menerbitkan sebagian besar karya kontroversialnya. Di tahun 1970, ia menulis Qashâ`id Mutawahisha (Kasidah-kasidah Liar) serta menulis Asy'âr Khârijah ‘An al-Qanûn (Sajak-sajak Nakal) di tahun 1972. Tahun 1979, terbit salah satu puisi best seller-nya yang kemudian diubah ke dalam lagu oleh penyanyi Irak Kazem al-Saher dengan judul Asyhadu an lâ Imrâ`atan Illa Anti (Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau). Memasuki dasawarsa 80-an, ia banyak menulis puisi-puisi politik yang dikumpulkan dalam antologi Qashâ`id Maghdûb ‘Alayha yang diterbitkan tahun 1986. Di tahun yang sama, ia menerbitkan Tazawwajtuki Ayatuha al-Huriyya (Kupinang Kau, Oh Kebebasan) dan Jumhûriyyât Junûnistan (Republik Kegilaan). Sementara salah satu karyanya yang menjadi legenda, al-Kibrît fi Yadi wa Duwaylatikum Min Waraq (Pemantik di Tanganku Sedangkan Negaramu yang Kecil Terbuat dari Kertas), terbit tahun 1989. 


Pada dekade ini pula Nizar Qabbani bermigrasi ke London karena kehidupan di negeri-negeri Arab dianggapnya tidak memungkinkan lagi. Di London, secara teratur ia menulis untuk koran lokal berbahasa Arab, namun kemudian memutuskan untuk mendirikan penerbitan sendiri setelah saham koran tersebut dibeli oleh pemerintah Saudi dan ia dilarang mempublikasikan tulisan-tulisannya. Kaki tangan pemerintah negara Arab yang terus berusaha menjangkau, menekan, dan mengintimidasinya dengan bermacam cara, membuatnya terpaksa hidup dalam keterasingan. Ia terus hidup dengan cara itu hingga hari kematiannya, 30 April 1998. Di masa-masa akhir hidupnya, Nizar masih sempat mengkritik para penguasa dan menulis karya. Akibat menandatangani perdamaian Oslo, Yasser Arafat dianggap oleh Nizar telah menuntun bangsa Arab menuju perdamaian yang dicapai dengan kelemahan ketika orang-orang Arab membutuhkan perdamaian yang dicapai dengan penuh keberanian dan kehormatan sehingga mampu meningkatkan moral dan kepercayaan diri mereka. Sedangkan gubahan terakhirnya yang memukau adalah Dimasyq Tuhdini Shari'an (Damaskus Menganugerahiku Sebuah Jalan).   


Setiap talenta luar biasa sejatinya adalah aset yang memperkaya kebudayaan suatu bangsa. Lebih jauh, karya-karya dan prestasi yang ditorehkan oleh orang-orang semacam itu merupakan kekayaan yang menyumbangkan rasa percaya diri dan kebanggaan bagi suatu bangsa. Para pemimpin Arab pun menyadari hal ini. Terlepas dari sikap-sikap semasa hidupnya, mereka menyadari bahwa Nizar Qabbani adalah sosok luar biasa yang menyumbangkan banyak hal pada bangsa Arab.


Karena kesadaran semacam itulah sedikit hiburan diterima Nizar Qabbani di akhir hayatnya. Ketika mengetahui Nizar Qabbani meninggal, para pemimpin Arab yang dulu memusuhinya sibuk menawarkan bantuan pada keluarga Nizar Qabbani. Di antara mereka ada yang meminta agar Nizar disemayamkan di negerinya, ada yang menawarkan bantuan dana untuk biaya rumah sakit, pesawat, dan berbagai bantuan lain. Di negara asal Nizar, Syria, Presiden Hafiz al-Asad menamai salah satu ruas jalan di Damaskus dengan nama sastrawan agung ini untuk menghormati prestasi dan karya-karyanya.


Sesuai wasiatnya, Nizar Qabbani dikebumikan di Damaskus. Upacara pemakamannya dilangsungkan seperti layaknya penghormatan pada seorang pahlawan. Ribuan orang meratap, ribuan orang berjejalan di jalanan Damaskus, lagu-lagu nasional didendangkan, ritual tradisional Damaskus dilangsungkan, dan lagu-lagu pujian dilantunkan untuk mengenang kehidupan Nizar Qabbani. Dalam sejarah Damaskus, pemakaman Nizar Qabbani ini adalah pemakaman pertama yang dihadiri oleh seluruh laki-laki dan perempuan Damaskus. Atas karya-karyanya, para kritikus Arab pun menjulukinya sebagai “Raja Penyair Arab” berbeda dengan Ahmad Shauqi yang dijuluki sebagai “Pangeran Para Penyair.”[]
 

Sabtu, Oktober 10, 2009

Rabiah al-Adawiyah




Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justeru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.
Namun begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat.
Bapa Rabi’ah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi Rabi’ah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.

Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabi’ah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung harap kepada belas ihsan Tuhannya.
Marilah kita teliti ucapan Rabi’ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:
“Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!
“Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.
“Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.
“Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan di hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu.”
Rabi’ah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah SWT:
“Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.”
Setiap malam begitulah keadaan Rabi’ah. Apabila fajar menyinsing, Rabi’ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:
“Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”

Jumat, Oktober 02, 2009

Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi Legendaris dari Persia



Ia berkata, “Siapa itu berada di pintu?”
Aku berkata, “Hamba sahaya Paduka.”
Ia berkata, “Kenapa kau ke mari?”
Aku berkata, “Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti.”
Ia berkata, “Berapa lama kau bisa bertahan?”
Aku berkata, “Sampai ada panggilan.”
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, “Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan.”
Aku berkata, “Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku.”
Ia berkata, “Saksi tidak sah, matamu juling.”
Aku berkata, “Karena wibawa keadilanmu mataku terbebas dari dosa.”

Syair religius di atas adalah cuplikan dari salah satu puisi karya penyair sufi terbesar dari Persia, Jalaluddin Rumi. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah –kedalaman makna dan keindahan bahasa– yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya.
Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah –sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewa-dewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu.
Bagi kelompok yang mengagul-agulkan akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.

Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya.”
Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.
Pengaruh Tabriz
Fariduddin Attar, seorang tokoh sufi juga, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin itu tidak meleset.
Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 ( ada yang menyebut 1217 ) Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi (Riwayat lain menyebutkan Maulana Jalaluddin Muhammad Ibn Husain Balkhi Khurasani ).  Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun.
Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi Tabriz– ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.
Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”
Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.
Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.
Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.
Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.
Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.
Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.


Pada tahun 1244 Rumi mulai hidup sebagai mullah, seorang darwis pengembara bernama Syams Din At-Tabriz tiba-tiba datang dari ibukota Saljuq dan menarik perhatiannya karena tingkah lakunya yang ‘aneh’. Dalam diri darwis pengembara itu Rumi mendapatkan imaji yang sempurna tentang Yang Tercinta, yang selama ini dicarinya. Selama kurang lebih dua tahun keduanya tinggal tak terpisahkan, dan dimana Rumi belajar banyak darinya, seperti Musa yang bertemu Khidir..
Keharuan yang dalam karena pengalaman-pengalamannya dalam bergaul dengan sang darwis pengembara itu mengubah Rumi dari seorang alimyang tenang menjadi seorang penyair yang penuh haru gembira, yang sama sekali tak dapat menahan arus puisi yang berlimpah mengalir darinya.






Konon, Rumi menciptakan suatu tarian suci—sekarang lebih dikenal dengan tarian sufi—dengan berpusar-pusar melingkar, yang dilakukan oleh para darwis, diiringi bunyi seruling yang meratap dan suara genderang. Sementara Jalaluddin Rumi, di bawah pengaruh suasana yang penuh gairah dan mistik dari saat ke saat, tak hentinya mengucapkan sajak-sajak secara spontan tanpa dipersiapkan terlebih dahulu. Sebagai pengakuan terhadap orang yang telah mengilhaminya, seringkali Rumi menyebut nama Syams al-Din diakhir pengucapan sajak-sajaknya dalam kegandrungan spiritualnya. Tarian sufi Rumi diciptakan sebagai perlambang pencarian akan Kekasih yang hilang.
Rumi bukan penyair pertama yang menulis puisi mistis dalam sastra persia. Latar belakang keagamaannya yang kuat membukakan baginya kepustakaan yang luas diluar sastra dan puisi. Ia adalah ulama yang menguasai Al-Quran dan tafsirnya, hadist-hadist, dan hukum-hukum agama. Rumi juga akrab dengan ilmu-ilmu asing seperti filsafat dan sejarah, seperti yang terbias dalam kebanyakan puisinya. 
Puisi karya Rumi tersimpan dalam Diwan Syams Tabrizi yang terdiri dari 35.000 sajak, Kitab sajak Matsnawi yang sekarang terdiri dari 6 jilid berisi hampir 26.000 sajak. Melalui karya-karyanya, sosok Rumi mendapat tempat khusus bagi pecinta puisi terutama dikalangan umat Islam. 

Wafat
Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”
Pada 5 Jumadil Akhir 672 H ( sumber lain 1273 M ) dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya.
Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
“Kepada Nya, kita semua akan kembali”

* dari: Pustaka Online Media ISNET
          'Kasidah Cinta' penerbit Pustaka Iqra
           dan dari berbagai sumber

Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Thiya's Plurk
Daftar Isi
   Koridor Silaturahim Semesta Sajak Renjana