[Sebuah prosa liris singkat]
Untuk perempuan yang dirindukan hujan...
Kembali kusapa dirimu dengan salam, yang membawa kita pada teja kenangan. Tak banyak, tak juga sering. Hanya beberapa kali. aku melihat binar matamu bersenda dengan hujan. Lirih berceloteh betapa awan dan pelangi sungguh serasi. Dan hanya pada kali itu aku melihat binarmu sungguh-sungguh tertawa. dan biarlah aku yang duduk menikmati bersama kabut yang terus menunggu pagi.
Menemukanmu. Ritmis hujan senja kala langit merah saga. Semua musim seakan tak berarti. Semua warna mati. Selebihnya, semoga engkau takkan pernah lupa untuk menyampaikan pesan kepada sang matahari agar mengajariku bagaimana menjaga cahaya matamu kelak. Menghuni istana hatimu adalah harapan terdalamku.
Melihatmu. Nyata terbaca semua kata pada sela-sela hujan yang engkau puja. Kadang ia terlihat merindukanmu. Kadang ia untuh dan sendu. Suatu ketika ia terlihat begitu purna dalam bisu. Tak membutuhkan apapun.
Kepada yang dirindukan hujan. Anggunmu, utuhmu, purnamu, diam-diammu. Rindu-rindu tak berdasar. Buta dan membingungkan. Tapi hujan selalu setia pada percaya yang tak sia-sia.
bersambung...
Sabtu, April 10, 2010
Perempuan yang dirindukan hujan
Rabu, Januari 13, 2010
Mahadewa
Aku seorang pangeran
yang patut memiliki angkuh
tak sembarang menebar senyum
Karena setiap gerakku adalah keputusanku
Akulah sang Mahadewa
yang memiliki semua kehendak
Tak bersalah karena akulah pemiliknya
Semua yang tercipta termasuk kau, Dewiku
Ingatlah! Langit dan bumi adalah sifatku
Tak perlu bermimpi kau tetap akan melihatku
Merasakan setiap lembut kasarku
Dengan tapak-tapak kaki dan tanganmu
Tak perlu kau bertitah dengan lancang manismu
Menyuruhku tuk menggenggam erat jiwamu
Akulah angin yang selalu menafaskanmu
Menyanyikan lagu sepi, bersatu dalam jiwa suci
Akulah angin yang selalu bersamamu
mendekap erat jiwamu
Agar kau selalu merasakanku
tiap-tiap hembusan damaiku
Walau kau kan terlepas dari jasadmu
Jangan salah kau mengartikanku!
Minggu, Januari 03, 2010
Purnamaku [dialog 2 hati]
Jumat, Januari 01, 2010
[bukan] Cintaku
Kenyataannya karena murka semuapun bicara
Lewat derap lamat-lamat gerimis malam
Cinta yang kuyakini di hatimu pun memilih diam diri
Ya, kita terbang dalam angan kita sendiri
Terjebak pada angan tentang matahari tak kekal dalam cahayanya
Kita tak boleh angkuh
Aku mencintaimu tapi bukan cinta yang selalu membuatmu tersiksa saat menggenggam cintaku
Akupergidarisemuayangkucinta,
dariraguyangkaupunya...
Maaf. Sejak aku pergi, aku berusaha selalu menganggap itu yang terbaik yang bisa aku lakukan. Itu yang redakan gelombang.
Kamis, Oktober 15, 2009
Sabda Malam
Kamis, Oktober 08, 2009
181006
Jumat, Oktober 02, 2009
Catatan kala hujan senja
Membiasakan diri dengan tiadamu
Terlanjur kupercayakan penuh
tautan rinduku di tiap nafasmu
16:05:56
Kuhitung tiap sekon dengan gagu
Menunggu satu-satunya laku yang dapat kubaca
Menerka aku tak kuasa
Apa yang akan kau voniskan pada kelamku
Layakkah aku dengan kerdilnya rasaku
Menanti nyata itu hadir hanya untukku?
16:50:39
Kueja tiap wahana bekas tapakmu berdiri
Tiada lagi tempat membagikan pandangan ini
Semua merasa,
Siang telah kehilangan mataharinya
membagi beku kepada salju
dan hujanpun kian sinis menderas rindu
16:58:49
Semuanya benar-benar ikut merasa;
Matahari kehilangan bundarnya
salju ditinggalkan bekunya
Lalu aku sendiri harus kemana?
Haruskah aku berputus asa
Setelah dunia tak menjanjikan apa-apa???
17:05:35
Aku lebih memilih undur diri
Pergi tak kembali lebih aku sukai
tapi aku tak akan sesali
karena kau tetaplah kekasih hati
17:15:06
Laju ini takkan kuhentikan
Perhentian itu takkan kubayangkan
Sebab yang kudambakan
hanyalah ketenanganku dalam naungan...
17:17:25
Sebuah lagu
Kamis, Oktober 01, 2009
171006
dini hari
Akhirnya tiba suatu saat yang tak kuinginkan,
kaki itu memberi jejak dalam perjalanan pasirku.
Kabut semakin turun perlahan-lahan di bukit kasih.
Tak ada yang tahu kecuali kita,
apakah kau merasakan?
Kini bunga itu indah semakin sempurna
tapi hanya mata-mata surga yang boleh membelainya.
Aku ingin tapi jariku cukup mengerti
Aku hanya bisa mencium harum bunga itu.
Bagian bunga yang tumbuh tanpa tangan-tanganku
13:05
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||






“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)