Tampilkan postingan dengan label Mahadewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahadewi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 10, 2010

Perempuan yang dirindukan hujan

[Sebuah prosa liris singkat]


Photobucket

Untuk perempuan yang dirindukan hujan...

Kembali kusapa dirimu dengan salam, yang membawa kita pada teja kenangan. Tak banyak, tak juga sering. Hanya beberapa kali. aku melihat binar matamu bersenda dengan hujan. Lirih berceloteh betapa awan dan pelangi sungguh serasi. Dan hanya pada kali itu aku melihat binarmu sungguh-sungguh tertawa. dan biarlah aku yang duduk menikmati bersama kabut yang terus menunggu pagi.
Menemukanmu. Ritmis hujan senja kala langit merah saga. Semua musim seakan tak berarti. Semua warna mati. Selebihnya, semoga engkau takkan pernah lupa untuk menyampaikan pesan kepada sang matahari agar mengajariku bagaimana menjaga cahaya matamu kelak. Menghuni istana hatimu adalah harapan terdalamku.
Melihatmu. Nyata terbaca semua kata pada sela-sela hujan yang engkau puja. Kadang ia terlihat merindukanmu. Kadang ia untuh dan sendu. Suatu ketika ia terlihat begitu purna dalam bisu. Tak membutuhkan apapun.

Kepada yang dirindukan hujan. Anggunmu, utuhmu, purnamu, diam-diammu. Rindu-rindu tak berdasar. Buta dan membingungkan. Tapi hujan selalu setia pada percaya yang tak sia-sia.

bersambung...

Rabu, Januari 13, 2010

Mahadewa



Aku seorang pangeran
yang patut memiliki angkuh
tak sembarang menebar senyum
Karena setiap gerakku adalah keputusanku
Akulah sang Mahadewa
yang memiliki semua kehendak
Tak bersalah karena akulah pemiliknya
Semua yang tercipta termasuk kau, Dewiku
Ingatlah! Langit dan bumi adalah sifatku
Tak perlu bermimpi kau tetap akan melihatku
Merasakan setiap lembut kasarku
Dengan tapak-tapak kaki dan tanganmu
Tak perlu kau bertitah dengan lancang manismu
Menyuruhku tuk menggenggam erat jiwamu
Akulah angin yang selalu menafaskanmu
Menyanyikan lagu sepi, bersatu dalam jiwa suci
Akulah angin yang selalu bersamamu
mendekap erat jiwamu
Agar kau selalu merasakanku
tiap-tiap hembusan damaiku
Walau kau kan terlepas dari jasadmu
Jangan salah kau mengartikanku!


Minggu, Januari 03, 2010

Purnamaku [dialog 2 hati]



kau kilapan cahaya di saat gelap mendominasi ruang waktuku
kini, justru melalui setiap terang yang menuntun mataku,
aku terus merindukan itu...


seperti bintang di langit


dalam jarak bintang ke bintang itulah
di mataku rindu
di degup jantungku rindu
di setiap kataku rindu


demikianlah aku sering mencari gelap
dan merindukan berkas yang jarang lagi ku dapat


Kamu. Kita lebih luas dari yg kita kira. Melebihi semesta, bulan, dan bintang. Bila ia tenggelam, tak kan pernah membuatku bimbang.


ah, keteguhanmu itulah yang menempa hatiku berkali-kali
di atas kobaran api



Kau salah, purnama! Bukankah keteguhanmu yg selalu membuat malaikat iri hati?


ah, rupanya kau sedang berdialog dengan purnama lainnya... aku hanya purnama yang harus selalu bersembunyi di balik hijab awan malam...



Hei.. Aku kenal siapa Purnamaku. Ia tak serapuh itu. Kau kenapa?

Jumat, Januari 01, 2010

[bukan] Cintaku

 

Kenyataannya karena murka semuapun bicara
Lewat derap lamat-lamat gerimis malam
Cinta yang kuyakini di hatimu pun memilih diam diri
Ya, kita terbang dalam angan kita sendiri
Terjebak pada angan tentang matahari tak kekal dalam cahayanya
Kita tak boleh angkuh
Aku mencintaimu tapi bukan cinta yang selalu membuatmu tersiksa saat menggenggam cintaku

Akupergidarisemuayangkucinta,
dariraguyangkaupunya...

Maaf. Sejak aku pergi, aku berusaha selalu menganggap itu yang terbaik yang bisa aku lakukan. Itu yang redakan gelombang.

Kamis, Oktober 15, 2009

Sabda Malam




23:20 PM

Malam ini sunyi mendekap diri
mata memandang bintang menari
daun-daun bergoyang meresapi angin
kakiku bertanya
berdirikah aku di sini?
Jiwa kosong terbawa sekeping hati yang bersembunyi
Tetapi aku berdiri di sini

Jangan suruh aku tidur karena jiwaku menentang jahirku
Biarkan samudera memiliki makna tepi karena ragaku ingin berlabuh
Aku sudah lelah
hatiku ingin menginjak ujung sinar yang tertutupi awan gelap.
Salahkah?

04:01:08 AM

Asa ini semakin membuatku resah
apakah semua ini akan mudah musnah?
Aku mungkin terlalu percaya pada risalah jiwaku
dan terlalu berharap pada masa pemimpiku
Hingga aku terlupa bahwa aku hanyalah debu.

14:23 PM

Mataku jauh tak melihatmu
tanganku lelah walau tak pernah menyentuhmu
tapi jauh dari lubuk hatiku
jiwaku bernafas
hatiku sangat merasakanmu.
Matamu kulihat
gerakmu menjelas
dan harummu kurasa
walau semua tak kudekap.

Saat ini aku menemukan serpihan diriku di dalam dirimu
rasanya seperti melihat ketenangan dari matamu yang menerawang
Aku seakan menggapai dirimu dalam kalbuku
Seakan aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu
Hari ini aku seperti mengenalmu sejak dulu

Perasaan ini melebihi apa yang kurasa
kebahagiaan ini mengalahkan apa yang kupunya
Entah sampai kapan rasa ini menyelimutiku
entah kapan semua akan menemui jawaban pasti.
Aku yakin walau jahirku tak bersamamu
tapi jiwaku di sana.

Aku memang merasa mati tanpamu
dalam wujudnya yang mungkin belum bisa kau pahami
Jika ku terus menantikanmu apakah masih ada tapak jalan tuk menujumu
Aku terus menatapmu ketika aku tak lagi dapat menarik jiwamu
dalam hati dan pengharapanku tentangmu
Maka apakah kuharus pergi jauh dari batasan hirupan nafasmu?

Begitu juga denganku!
Aku, jiwaku seakan kosong saat kau pergi dari aku
kamu membawa separuh nafasku
dan tinggalkan sayap-sayap patahku!
Bukan kau yang kan menghampiriku
tapi jiwa kan membawa jahirku ke ruang hidupmu
Jika kau membuka pintu.

Seluruh pintu kan kubuka
Hari-hari yang kutulis memang tak jauh dari dentangmu
yang mengoyak-ngoyak fikiranku secara berkelanjutan
dalam bentuk ketidakpastian.
Tapi, siapa peduli?
karena mungkin kamu berkata
aku orang yang tak peduli jiwaku sendiri.
Semua ini akan terus meruah yang mungkin takkan terwujud dalam perihnya masa
Aku menunggu untuk menikmati semuanya dengan indah.

Takkan kusia-siakan pintu itu terbuka walau jalanan tinggi membatu
dan pasir-pasir menjadi duri.
Aku akan terus melangkah tanpa lelah melukai tapakku.
Aku rasa yang peduli padamu,
jiwa yang tahu tentangmu!

Percayalah!


Kamis, Oktober 08, 2009

181006



04:47 AM

Aku tak butuh air mata tumpah
atau senyum rekah
jika sajak ini dibaca
Kau cukup merunduk saja
mengamini gerimis jatuh di mataku
agar sempurna menjadi hujan subuh sederas rindu

Gerimis itu bukanlah tetesan batu
ia embun pagi yang mengusap dahi daun kotorku
Sungguh tak bisa kubalas dengan air mata tulusku,
jujur tak bisa hempaskan keindahan yang menyenyumimu

Pagi ini indah, damai mewangi
Sekuntum bunga tebarkan rasa yang belum berkaca.
Kupejamkan mata,
lisan memaksa tanya
hati berharap rasa
meminta nyata!
Bidadari datang merasuki diri
mengerti hati.

Embun yang kau kata ada didahi daun
sekarang tampak jelas.
Putih; saling bersentuhan!
Mengecat benak dan lumbung semesta
Dan kini kau berhasil menjadi purnama
Gemercik bias mengalir ke seluruh penjuru angin
Memabukkan!
Ruh dan ragaku bersulang seperti halnya Rumi dan Syam.

Putih itu akan terus memutih
walau angin menaburkan debu
Bukan bersentuhan tapi
saling menyatukan antara semua perbedaan yang mengalir dalam rasa
Sinar itu bukan hanya tuk dipandang
tapi juga tuk disimpan dalam

Engkau menyingsing,
bulan menggasing
Semburat pijar cahaya asing begitu langsing menggoda
alam berdendang sayang
Subuh berkumandang
dalam darah!
dalam detak!
dalam denyut!

Aku tak seindah bulan purnama
Aku tak seterang sinar purnama
Aku datang dengan warna suram tak seterang cahaya yang kau pandang
Bulan itu pergi memang saatnya berganti
Bukan berarti datangnya cahaya matahari
Aku takut dengan makna

Jumat, Oktober 02, 2009

Catatan kala hujan senja

Beri aku waktu
Membiasakan diri dengan tiadamu
Terlanjur kupercayakan penuh
tautan rinduku di tiap nafasmu

16:05:56

Kuhitung tiap sekon dengan gagu
Menunggu satu-satunya laku yang dapat kubaca
Menerka aku tak kuasa
Apa yang akan kau voniskan pada kelamku
Layakkah aku dengan kerdilnya rasaku
Menanti nyata itu hadir hanya untukku?

16:50:39

Kueja tiap wahana bekas tapakmu berdiri
Tiada lagi tempat membagikan pandangan ini
Semua merasa,
Siang telah kehilangan mataharinya
membagi beku kepada salju
dan hujanpun kian sinis menderas rindu

16:58:49

Semuanya benar-benar ikut merasa;
Matahari kehilangan bundarnya
salju ditinggalkan bekunya
Lalu aku sendiri harus kemana?
Haruskah aku berputus asa
Setelah dunia tak menjanjikan apa-apa???

17:05:35

Aku lebih memilih undur diri
Pergi tak kembali lebih aku sukai
tapi aku tak akan sesali
karena kau tetaplah kekasih hati

17:15:06

Laju ini takkan kuhentikan
Perhentian itu takkan kubayangkan
Sebab yang kudambakan
hanyalah ketenanganku dalam naungan...

17:17:25

Sebuah lagu


Bintang-bintang yang berpijar
Temani bulan yang memanja
Langitpun bercanda
Anginpun hembuskan auramu
langkah bisu ikuti langkah jejakmu
Yang jauh mencarimu

Oh Dewiku
Kau bintang kejora yang bersinar
Yang terang tinggalmu di atas sana
Dan kurasa walau kau jauh di angkasa
Seakan kau ada dalam jiwa

Malamku yang sangat merindu
Pohon cemara melambai merayu
Benakku mengingatmu...

Mahadewi...
Bulan yang menyinari
Tak lelah yang selalu menerangi rasa
Sayap-sayapmu membawaku ke ujung waktu
Temukan cinta yang tak bisa musnah
Berikanlah kasih sayang yang kudambakan
Hidupku bahagia karena dirimu

Kamis, Oktober 01, 2009

171006

dini hari

Akhirnya tiba suatu saat yang tak kuinginkan,
kaki itu memberi jejak dalam perjalanan pasirku.
Kabut semakin turun perlahan-lahan di bukit kasih.
Tak ada yang tahu kecuali kita,
apakah kau merasakan?

Kini bunga itu indah semakin sempurna
tapi hanya mata-mata surga yang boleh membelainya.
Aku ingin tapi jariku cukup mengerti
Aku hanya bisa mencium harum bunga itu.
Bagian bunga yang tumbuh tanpa tangan-tanganku

13:05

Jalan setapak itu tak memiliki jejak.
Sama sekali.
Hanya bianglala yang menyanyikan tiap-tiap kisah masa silam
Lalu bagaimana sebuah legenda menemukan hulunya?
Di bawah kangkangan bulan yang menggelayut liat,
aku hanya menemukan siluet yang terserpih-serpih....

Tapi tapak-tapak itu akan memberi banyak arti
di setiap likuan yang tak pasti,
Hingga mata suram akan tahu arah
walau sinar keduanya membuta

Legenda itu tak pernah ada bagi yang tak merasa
angin yang membawa serpihan debu di padang surga.
Legenda itu akan nyata memiliki sayap-sayap bernyawa.
Aku percaya...

Hey, siapa yang mengetuk mimpiku?
Tak perlu menunggu-nunggu cerita yang baru terpintal.
Jejaki saja langit yang menebar kemarau,
karena hutan tak kan memeluk angin jika hanya membawa aroma binasa bagi rantingnya
maka kaupun akan bisa memintal sendiri sebuah cerita demi ocehan otentik musim yang tak bersayap

Mimpi tak perlu diketuk
karena ia akan datang sendiri saat mata-mata mulai memejam sementara
Kini aku bertepuk bukan di musim panas
tapi musim yang dingin yang membuatku menyelimut

Hutan itu memang tak memeluk angin
tapi daunnya merasakan apa yang menyentuh
Biarkan ranting itu patah karena
nanti akan terganti ranting yang kokoh walau
nanti akan patah jua.
Tapi ini hanyalah usaha.

Ijinkan aku membunuh seluruh inderaku.
Aku tak ingin lagi memoles kata-kata yang hanya dilacurkan mulut tamak saja
Tiap hari,
tak kunjung kukenali
Tinggal hati,
yang tak kenal kata lagi

Jangan kau lakukan!
Karena kau bukan hanya memusnahkan rasa inginmu
tapi kau juga akan menghilangkan risalah jiwaku
Menundukkan kepala tegakku
dan menghitamkan jalan oborku
Kau akan mengerti
seperti aku mengerti

Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Thiya's Plurk
Daftar Isi
   Koridor Silaturahim Semesta Sajak Renjana