Tampilkan postingan dengan label Aku dan Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku dan Sajak. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 21, 2011

Sesuatu

... Menjelang dluha, ia membongkar sesuatu dari dalam laci.
Nama Bintang, si Kekasih Puisi.
Diejanya ulang,
dan kemudian ia menyimpannya lagi,
rapi.

21092011 - 07:00AM

Minggu, Juni 12, 2011

Dunia Gelembung Bola



Hidup di dalam gelembung bola. Pengap, bukan? Tak jelas maunya apa. Tak inginkan apa-apa. Menguat-nguatkan diri membesar-besarkan hati. Setelah ini apalah dunia dan janji-janji masih berarti?

12062011M-13:51PM



... Adalah sebuah ketidakmengertian, memandang kalian menawannya dengan kata malu dan harga diri. Namanya juga dalam dunia gelembung bola. Yang lain melukis pelanginya sendiri sedang ia meringkuk bersama udara yang berserah. Gusti, kepalaku sakit lagi.
12062011M-18:34PM

~ Thiya Renjana ~
Padmasana sunyi, Bandung Barat

Kamis, April 14, 2011

Melepas Yang Lalu


Tinggal menghabiskan sisa teh tawar, dua cangkir
tandas sudah. Jejak buku-buku, yang sengaja kau tinggalkan,
kerap tak terbaca. Dan aku butuh melepas masa lalu
yang lebih buruk dari cuaca.

~ Thiya Renjana ~
Ruang DPS Palasari, Bandung
15042011/11:02AM

Memangkas Namamu Dari Kenangan

... Menyesap secangkir karikade hangat. Menikmati hujan.
Barangkali begini cara para Omruper dahulu, memilah-milah namamu dari masa lalu.
Kemudian bergegas memangkasnya habis dari kenangan.

14042011/04:08PM, ngeteh tengah hujan
~ Thiya Renjana ~

Sabtu, April 09, 2011

Sajak Bebuku, episode enam



... Kita sedang menyusun buku.
Memilah mana diksi mana kenangan.
Apakah kau mengenaliku sebagai huruf yang menginginkan jilid?
Dari sisa-sisa pelarian dunia Juliette juga Nurbaya.
Dan baru ingat, bagaimana bila ini menjadi paragraf terakhir?

~ Thiya Renjana ~
Ruang kerja DPS Palasari, Bandung
09042011-12:30PM

Sajak Bebuku, episode lima



Sebab aku hanya buku,
sehingga bisa kamu tulisi sajak paling rindu
Barangkali hanya itu yang boleh aku tahu
Membiarkan saja kamu menuliskan jarak yang terlalu gugup diukur

Menyesap sepi, sepertinya
Tak menoleh kala membelok ke pangkuan
Ini masalahmu, menaruh tangan Rumi di dadaku
hingga darahnya berbuku-buku
Kubaca tak habis semalam dalam mangkuk

Kamu yang tak mengenal kenangan
Mampu berdiri tertawa antara tiga jalan
Aku menangisi getar, sebab kita terlanjur berpamitan

~ Thiya Renjana ~
Ruang Kerja DPS Palasari, Bandung
09042011 - 01:47PM

Sajak Bebuku, episode empat



Lalu kita bertanya, perihal sesiapa membaca
Merapal denyar doa-doa, lamat
atau rindu berbelit tasbih batu

Buku ini rindu
lirih terbata bertahun-tahun
Semua adalah kamu lahir menjadi aksara
seakan tiada lagi kegelisahan, menyabit

"Dengan begitu kita akan paham", kataku
Bagaimana kita memendam lubang, di tubuh sendiri
Menyiramnya dengan kata-kata basa,
lupa lautan pun bumantara
Tafsir bab-bab sendiri, mencinta
Dengan dalam. Dengan hujam.

Maka apakah kamu akan mengenaliku sebagai debu yang beku?
Yang lupa padang
Sedang waktu telah mengumpulkan tinta
menulis namamu benar-benar,
sepenuh buku hati kita sendiri.

~ Thiya Renjana ~
Ruang Kerja DPS Palasari, Bandung
09042011,12:26PM
Pilek. Speedy mati.

Jumat, April 08, 2011

Sajak Bebuku, episode tiga


Membacamu aku belajar berkaca
Menelisik jejeran huruf tabah yang langka
Kala mendung dan gerimis kecil merambati jendela
Aku membacamu sepenuh hati, senjakala
Mengintipmu jatuh ke tulisan yang sama
Tak lelah
Maka telah menjadi kekasih gelapkah aku?
Sebab aku miliki rindu yang gelap jua

~ Thiya Renjana ~
07042011,17:19PM
Bandung, dalam angkot Ciparay-Tegalega

Rabu, April 06, 2011

Sajak Bebuku, episode dua


17:47
... Aku merasa begitu kecil di antara lembar-lembar buku.
Padahal, sehuruf rasanya satu eon buatmu.
Karena kenangan menulisnya lurus-lurus.
Oleh waktu. Oleh rindu.

17:56
... Kalau masa depan cuma judul baru,
lalu bagaimana dengan paragraf pertama halaman sekian yang
takkan pernah habis kubaca?
Kemudian berpendaran melintas perpustakaan waktu dan berteriak aku cinta!

18:02
‎... Buku telah mengatakan padaku,
bahwa masa lalu dan masa depan hanyalah distraksi,
menarik kita ke dalam abstraksi mental yang tidak nyata.
Tidak ada yang lebih penting daripada saat ini.

18:24
... Dengan bab yang berbeda.
Angka bergejolak di bawah permukaan.
Aksara mencuat ke tiap halaman.
Aku membaca lamat-lamat.
Tak tergurat cinta dan percaya.
Mampu menyusun mengutuh buku tanpa dibantu siapa-siapa.

~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 06042011 : jelang senja

Selasa, April 05, 2011

Sajak Bebuku, episode satu


/I
... Namamu kubaca dengan jelas.
Antara abu-abu pudar dan keemasan.
Pada jilid buku yang takkan usai kubaca.
Lalu robek di halaman ke duapuluhdelapan.

/II
... Pikirannya berhenti di paragraf itu.
Kenapa harus diserahkan begitu saja kepada langit?
Ia merasa memilih buku yang salah.
Mungkin harus mundur lebih jauh lagi.
Dan benar saja, sudut itu muncul tanpa permisi.
Pengap dan basah.

/III
... Itulah satu-satunya kesalahanmu.
Membawa buku yang salah ke meja kasir.
Bisakah kita kembali ke rak dan tidak perlu membaca?

/IV
.. Tergelak di halaman ke sekian.
Hidup ini semakin lucu, seperti kata buku.
Saling bertemu dan saling melupakan menjadi tak ada beda.
Sama-sama memilukan.

~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 05042011 : ba'da Isya

Selasa, Desember 28, 2010

Menuju Ke Kotamu


menuju ke kotamu
sengaja kususuri jalan lebih jauh
memulai belajar
kali-mengalikan rindu
tetangkai rose
yang harus kutabur di tiap jengkal rel kereta

ini perjalanan terusang
dari paling terasing
yang pernah kulalui
bersama genangan-genangan kenangan
tentangmu

ketika jendela-jendela kereta retak
terpalu pilu
sedu sedan tangis hujan
Semoga di tanganmu tetap melekat
cawan suci, pemapah air mata

sebab melaju, menuju ke kotamu
aku membawa suka
juga duka yang tak mampu kudaki

hingga kau datang
menuntunku melantun rindu
di bibir senja, di stasiun itu

[asmara sahara]

Kamis, Desember 23, 2010

Di Jendela, Bayangmu...


Aku selalu membuka jendela sejak pagi. 
Menanti aroma sajak yang kau titipkan pada matahari.

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 24122010

Jumat, November 12, 2010

Di Bawah Langitnya


Jika kau menungguku di bukit dejavu, dan aku menunggumu di ladang perdu, maka kita hanya kan bertemu di sekarat waktu...

~ Thiya Renjana ~

Selasa, September 07, 2010

Jembatan Kita


Jembatan itu tetap tegak pada tugasnya.
Di ujungnya dia menanti ditingkahi gerimis tak sudah, 
sedang aku di sisi ini tersaput rindu.
Benar-benar rasa rindu.
Duh Matahari dan Rembulanku,
sampai kapan kalian gantung hatiku?

~ Thiya Renjana ~

Kamis, Juli 22, 2010

“Madura, Akulah Darahmu”




“Madura, Akulah Darahmu” seutuhnya
Di atasmu, bongkahan batu yang bisu
Tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
Biar berguling di atas duri hati tak kan luka
Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu
Dan aku
Anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
Kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
Bahwa aku sapi kerapan
Yang lahir dari senyum dan airmatamu


Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
Sebasah madu hinggaplah
Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
Emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua


Di sini
Perkenankan aku berseru:
- madura, engkaulah tangisku


bila musim labuh hujan tak turun
kubasuhi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi kerapan
yang menetas dari senyum dan airmatamu
aku lari mengejar ombak, aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang-gemintang
di ranting-ranting roh nenekmoyangku


di ubun langit kuucapkan sumpah:
- madura, akulah darahmu.


(D. Zawawi Imron, 1996)

Sabtu, Juli 17, 2010

Kupungut Kenanganmu

Lokasi: Bangunan Seribu Jendela, Gedung Sate
Bandung, Jawa Barat


Kupungut sisa kabut di udara; yang luput dari nafasmu
entah dendam entah cinta; kemudian melimpah menjadi hujan
kupungut sisa waktu di ruang tunggu; yang luput dari denyut jantungmu
entah muslihat entah ketulusan; kemudian menjadi abad
kupungut semua kupu-kupu; yang luput dari sergapan jalamu
lalu aku benamkan di sebuah taman; bersama bunga-bunga
kemudian menjelma menjadi layang-layang
kupungut semua kata-kata; yang luput dari arus darahmu
kujadikan peta dari setiap langkahku


~ Thiya Renjana ~

Kamis, Juli 08, 2010

Cinta Seperti Milikmu



Terimalah apa yang kuhampar
Agar kau tak gundah dengan gelap yang ditinggalnya
Kuwariskan segala bahagia ke pangkuanmu
Karena itu,
Katakanlah sungguh ihwal ini adalah pencerahan
Bukan menghancurkan ketenangan
Semua mungkin tidak percaya
Telah kupapas segala tenang banyu dan lambai bayu
Untukmu terus mengingat
Aku pernah punya cinta
Seperti milikmu

~ Thiya Renjana ~
Ruang kerja, Palasari Bandung

Senin, April 26, 2010

Rindu Lagi


Adalah hatiku, 
yang menatapmu jauh dari kedalaman jendela tanpa ragu.
Adalah aku,
yang menunggu kapan patah itu berlalu
Dan rinduku... 
Kenapa hanya memanggil namamu?

Bandung, 27042010 12:34 PM 

Rabu, April 07, 2010

Jendela mahabbah kita


Satu koma lagi dan kita akan menemu titik
Sebuah titik jendela mahabbah kita
Menuju apa-apa yang kita sebut surga..


Tak tersia menanti


Dengan setiap kali suaramu memanggil dari dinding kamarku
Menjadi sebenar teman tidurku
Saat itu aku tahu
Ternyata orang menanti tak pernah kesepian
Orang mengira ia sendirian,
padahal ia berdua dengan harapan...

 ~ Bandung, 07042010 02:18 PM ~

Minggu, Januari 03, 2010

: ketika saga senja usai



ketika saga senja usai
dan hanya tersisa diam
di antara ruang dan waktu
aku menunggumu..
dan biarkan matahari
yang melukis cerita kita
pada pelangi pagi itu


Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Thiya's Plurk
Daftar Isi
   Koridor Silaturahim Semesta Sajak Renjana