ah biar saja, kenapa mesti malu
Ia yang memberiku pikiran
melihatku membayangkan wajahmu diam-diam
melukis wajahmu pada bayangan bulan
yang berenang di telaga
sambil menatap awan-awan, laut, bintang-bintang
atau ketika duduk di pinggir jalan
kau pasti tak mengerti
ketika kutulis sajak cinta dari kilau embun di tepi daun
atau dari semburat warna merah lembayung senja
ah biar saja, Ia yang memberiku rasa
Melihatku menangis di tikar sembahyang di malam kelam
aku hanya sedang belajar mencintaiNya
--12022007,09:11 PM--
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar