Di mataku malam seperti beku. Tak ada senyum pada wajah rembulan pun bintang-bintang. Dan angin hanya menyisakan pekat rasa kangen di sukma. Tak ada yang tahu kalau di mataku semuanya berganti wajahmu. Kang Mahbub bicara malah terlihat kamu yang berkata. Dia tertawa malah tamamu yang tampak di sana. Apakah aku buta? Tak ada kebohongan pada desiran waktu yang lewat selain bayangmu yang terus berkelebat melekat. Tak ada hal sempurna di dirimu yang memberi kelayakan memenuhi pelupuk dan tak ada yang salah seperti kerinduanku pada laut. Lagi-lagi aku menjadi puteri mimpi. Kerjaannya hanya melamun dan melamun lagi. Tapi satu-satunya yang hadir hanya sosokmu menjahir dalam lamun. Tak pernah kutersentak seperti bayangmu yang tak henti menjejak.
~ Thiya Renjana ~
Ruang Aula lantai II PPRU I Pi
30112006,00.00 WIB
*) Dibacakan Kang Mahbub dalam acara Workshop Kepenulisan Bersama Matapena I
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar