Tampilkan postingan dengan label Yang Selesai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yang Selesai. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 04, 2011

Takdir Yang Selesai




 ... Andai engkau bersamaku, mungkin akan engkau pahami apa yang kurasa. 
Garis pantai yang mengingatkanku akan jari-jari menekan tombol shut dan bola mata membidik di tengah lensa, sedang aku sibuk berlarian menjauhkan diri sambil tertawa-tawa. 
Doaku saat ini untuk takdir yang selesai
menyaingi jumlah pasir lembut yang menumpahi lidah-lidah pantai di sepanjang batas Siring Kemuning.
........

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 03102011

Minggu, Juli 03, 2011

Suka Melihatmu Terluka

... Entahlah, aku seperti suka melihatmu terluka.
Semakin tersenyum basa kukuliti luka-luka lama kita.
Sekarang kau tahu rasanya airmata, bukan?

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 02 Juli 2011 - 12:26PM

Selasa, Mei 31, 2011

Mimpi Kamu Lagi

 
... Mimpi kamu tadi malam,
seperti merasakan kelembutan yang terulang. Bisakah?

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 31052011 M

Minggu, Mei 08, 2011

Setengah Diriku Yang Hilang


Saya sempat berpikir
Kalau dia adalah teman jiwaku
yang hilang, setengah diriku
yang dipisahkan saat ditetapkan.
Namun
Kebisuannya membuatku
meragu
Membuatku merasa tak ada arti baginya...
Andai dia tak lagi bisu

~ Babas ~
08052011 M - 07:46PM

Sungguh aku ingin melupakanmu.
Meski pena ini tak henti menuliskan sajak untukmu.
 ~ Thiya Renjana ~

Kamis, April 14, 2011

Melepas Yang Lalu


Tinggal menghabiskan sisa teh tawar, dua cangkir
tandas sudah. Jejak buku-buku, yang sengaja kau tinggalkan,
kerap tak terbaca. Dan aku butuh melepas masa lalu
yang lebih buruk dari cuaca.

~ Thiya Renjana ~
Ruang DPS Palasari, Bandung
15042011/11:02AM

Memangkas Namamu Dari Kenangan

... Menyesap secangkir karikade hangat. Menikmati hujan.
Barangkali begini cara para Omruper dahulu, memilah-milah namamu dari masa lalu.
Kemudian bergegas memangkasnya habis dari kenangan.

14042011/04:08PM, ngeteh tengah hujan
~ Thiya Renjana ~

Minggu, April 03, 2011

Keangkuhanmu


Engkaukah kemarau itu?
Meranggaskan pohon di hati.
Tak ada yang bisa mengekalkan kenangan.
Kecuali waktu. Kecuali keangkuhanmu.

~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 03042011 : dini hari

Sudut tawamu


Kembali melandas di malam Minggu.
Puncak hujan perak berjatuh satu-satu.
Puisiku buntu tepat di lamun yang sama.
; Sudut tawamu.


Sudut tawamu, depan kedai sore itu,
dan pasar suri yang enggan.
Aku pulang mengemas rindu.
Tak menoleh lagi.


~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 02042011

Sapaan itu


Hatinya nanar, menahan pilu.
Mata saya rasanya masih meleleh setiap kali membaca sapaan 'Ale'

~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 02042011
usai membaca sisa-sisa pesan singkatnya

Rabu, Maret 30, 2011

Ketika Kamu Diterima


Sungguh saya bahagia. Bahagia yang benar-benar bahagia.
Kabar diterimanya dirimu seperti edelweis basah,
menyihir malamku.
Semoga selalu sukses dalam karir, cita, dan cinta.
Allah bersamamu selamanya waktu :)

~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 30032011-20:00PM

Lupa Semua Telah Selesai


.....
Meski aku berdiri di bibir pantai kemuning 
lalu meneriakkan namamu keras-keras,
tak ada angin yang mau mengantarkannya ke telingamu. 
Dan hujan luruh. Bukan dari langit, tapi mataku. 
Hingga rindu bergegas merengsa abu. 
Aku buru-buru sadar, semua selesai. 
Menjelma seperti maumu. 

.....
Seperti bulan memeluk matahari hanyalah ingin. 
Seperti aku sandarkan lelah padamu namun tak mungkin

~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 30032011-19:16PM

Selasa, Maret 29, 2011

Istana itu, hatiku


Istana pucat itu penuh debu, tak berpenghuni.
Sudah tak ada bunga matahari dan melati.
Yang tersisa hanya angin dingin dan edelweis basah.
Sesungguh hati aku memohon, 
jangan tambahi jelaga juga sarang laba-laba.

Istana pucat itu, hatiku.

~ Thiya Renjana ~
Palasari Bandung, 30032011 - 10:24AM
tersinggung respon komentarnya

Jumat, Maret 25, 2011

Kado Luka


Telah membingkis doa dan kado, 
terasa membingkis luka lama. 
Seperti menguliti kenangan yang nganga?

Tidak mudah memang, untuk bicara pada kenangan.
Karena meski tak lekang oleh waktu, ia tak lebih dari bayang-bayang.
........

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 25032011 - 11:47PM

Kenangan 26 Purnama


Ssstt, sudah larut malam. 
Tolong jangan berisik, kau bisa membangunkan rindu. 
Aku mencintai caramu melukaiku, 
dengan sebilah kenangan yang menancap tepat di ingatanku
Pergilah, karena ada yang sedang berusaha aku lepaskan
; 26 kenangan.

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 25032011 - 11:45 PM

Melepaskan


............ 
Masih hujan deras disini. 
Dan aku hanya akan butuh sebingkis doa, 
untuk melepaskanmu yang mencurah di ujung rintiknya.
..............

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 24032011 - 07:40PM

Sabtu, Maret 19, 2011

Usai berselisih




‎... Kita bisa salah mengucapkan, salah mengartikan dan salah menerjemahkan.
 Hidup ini bagaikan bahasa asing bagi setiap orang.

Hatiku ; kau tahu, tak lebih tabah dari itu.

‎... Usai berselisih, aku belajar sabar dari sebuah kemarahan.

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 17032011

Selasa, Maret 08, 2011

Bodoh!


Mengamini kata Kak Bahauddin Amyasi, 
"jika begini caramu membuatku rindu, aku sangat setuju! 
Karena aku selalu membutuhkanmu, lebih dari sekedar candu!"

... 
Semacam dendam. 
Terkadang aku berharap kamu gelisah merindukanku. 
Dan menyesal.
.....

Mendadak jadi bodoh.
Menulis apapun tentangmu padahal tahu kamu tak peduli, tak baca, takkan pernah tahu.
Tersebab kita berbeda dunia.
Aku di dunia yang serba klise, sedang kamu, di dunia yang sebenarnya,
yang tidak mengenal kata perpisahan.

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 0032011

Senin, Maret 07, 2011

Maaf Aku Benci


..... 
Maafkan saya begitu membencimu yang tak pernah benar-benar pergi, pun benar-benar disini
....

~ Thiya Renjana ~
Bandung, 07032011
Berat sekali berbagi pesan singkat denganmu
Saya harus susah payah untuk itu 
Susah payah menahan digurit rindu yang sakit selepasnya

Kamis, Februari 24, 2011

Kemudian Tidak Lagi


Bisa jadi nanti, kamu akan bilang cinta bukanlah hal yang luar biasa.
Lihatlah sayap kecil dari impian terjatuh luruh di samping daun
kecewa. Ia berkubang debu dan humus,
padahal ia meminta kejujuran air mata.

Sekarang cinta gurauanmu sudah sampai ke
pesisir Siring Kemuning, bukan? Yang sentiasa terbuka
Tetapi sejatinya tak ada.

Pasirnya digenggam riak untuk pulang
tersebab gelombang airnya meninggalkan diriku
sebanyak kamu mengunjunginya.

Dari balik punggung aku runuti jejak satu-satu dimulai
menjelang dhuhur hingga yang bernama separuh senja
kemudian tidak lagi...

~ Thiya Renjana ~
Ruang kerja,Bandung
Kamis, 24022011 - 03:38PM

Senin, Februari 14, 2011

Tak mau miliki kamu


Kenapa harus aku miliki jika mendengarmu dari jauh saja sudah bisa membuatku terpaku.
Aku tak akan kembali ke jalanmu kalau likuannya terus menjajah akal pikirku.
Cari saja kebahagiaanmu di istana lain dan aku akan mengusahakannya juga sendiri.
Di lindap gerimis pagi, aku tetap lirihkan doa untukmu berkali-kali...

~ Thiya Renjana ~
Tempat kerja, Bandung/Selasa, 15022011
Dalam dingin gerimis...

Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Thiya's Plurk
Daftar Isi
   Koridor Silaturahim Semesta Sajak Renjana