Tampilkan postingan dengan label Purnamaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purnamaku. Tampilkan semua postingan
Sabtu, November 05, 2011
Menulis Rindu
Sedang menulis rindu, agar tak lagi bisa hilang. Ataupun usang di sisi jendela.
Mungkin aku tak cukup berani merawat rindu sebesar itu.
Tapi cintaku menyimpan telaga, yang kita arungi menembus lintasan rahasia.
Tersebab kamu adalah cinta. Yang kupinta setiap sujud panjang malam dan dhuha. Yang tak bergeser menempati dada.
~ Thiya Renjana ~
Bandung, 06112011 - Aidil Adha
Rabu, Juli 20, 2011
Seribu Damba Untukmu
... Untukmu, seribu damba yang
melekat pada lukisan bumi kualamatkan.
Biar cintaku terjawab.
Dan kamu bebas kupeluk erat.
... Terkadang datang ragu, coba tepiskan indahmu.
Terkadang kupeluk bayangmu yang semu,
kupandangi fotomu berharap kau melihatku.
Ratusan malam kuhabiskan menunggu,
berharap engkau hadir di depan pintu.
~ Thiya Renjana ~
Bandung, 16 Juli 2011-16:06PM
Terima Kasih
... Aku berterima kasih kepadamu untuk
segala rindu yang melahirkan sajak-sajakku.
Untuk senyum dan tawa yang mendegup di ulu.
Serupa awan mendzikirkan salju-salju.
~ Thiya Renjana ~
Bandung, 12 Juli 2011-06:12AM
Merindukanmu Adalah...
Merindukanmu adalah sajak-sajak yang menunggu.
Serupa senyum sesingkat kupu-kupu.
Serupa hati yang jatuh kemudian berlalu...
~ Thiya Renjana ~
Bandung, 11 Juli 2011-22:34PM
Minggu, Juni 12, 2011
Cintaku sederhana
Cintaku sederhana, serupa awan yang menjadikannya hujan.
Sebab kau yang terindah.
Walau harus cukup sekian, dirimu
tak pernah tergantikan.
Cintaku sederhana. Dan kau melebihi
bulan bintang, awan hujan, api abu yang menjadikannya tiada.
Jika mereka terbenam, takkan pernah membuatku bimbang...
~ Thiya Renjana ~
Padmasana sunyi, Bandung dengan embun yang berserah diri
13 Juni 2011 M/12 Rajab 1432 - 06:30AM
Kamis, Mei 26, 2011
Perempuan Lain
Malam Jum'ah...
Para jama'ah menyayat diri dengan doa,
sedangkan aku melakukan hal yang sama
dengan rindu sebagai sembilunya.
Malam ini tak berharap hujan, tapi di luar jendela rupanya menderas.
Kala dirimu memilih perempuan itu di perjalanan ini,
tiba-tiba tujuanku tak terbaca lagi.
Sementara desau angin menyapu waktu yang dijeda oleh diam.
Tulus aku mendoai kalian.
~ Thiya Renjana ~
Padmasana sunyi, malam jum'at hujan deras
26052011M - 08:27PM
Rabu, Mei 04, 2011
Kesempatan Jodoh
Kau tahu, katamu, bisa saja jodoh kita adalah orang yang tidak pernah kita beri kesempatan.
Kemudian bagaimana jika jodohku justru yang berada di dalam jantungku sendiri?
~ Thiya Renjana ~
DPS Palasari, Bandung.
04052011 M - 04:42PM
Minggu, April 24, 2011
Cinta Yang Jauh
... Kukemas doa sebagai bekal untuk nama dan kenangan. Sayangnya, rindu itu terlalu mahal dalam waktu yang lama.
Tapi, coba terangkan lagi, apa sih yang dimaksud rindu hanya dalam satu ketika. Cinta sederhana tanpa tatap muka.
Entah.
#catatanpinggir untuk seorang pengajar anak bangsa sekaligus pendidik segenap jiwa dan ruh,
Padmasanaku, Bandung. 24042011-06:53PM
Selasa, April 19, 2011
Jarak
Kata mereka rindu bisa melipat jarak yang terlalu jauh untuk diterka.
Bagaimana mungkin jarak selalu menjadi soal. Bila pada
malam yang kelam, bisa kulihat matamu kunangkunang.
Semakin ia gulita, semakin kau nyata.
~ Thiya Renjana ~
Ruang Kerja DPS Palasari, Bandung
20042011-01:48PM
#untuk pengajar Miftahus Sa'adah
Minggu, April 03, 2011
Adakah Ingatkanku?
Mereka bilang sedang hujan di kotamu.
Adakah kau mengingatku?
Meraja rindurindu ...
~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 03042011
: Ba'da Ashar.
Tenang Matamu
Mendalami matamu.
Sebuah ketenangan, yang deras.
Dan entah kenapa hanya kamu yang punya.
~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 02042011
Selasa, Maret 22, 2011
Bagaimana Aku Mencintamu?
Bintangku,
yang paling kutakutkan dalam hidup bukanlah kematian,
tapi tak mampu mencintaimu dengan cinta yang pantas.
Aku bahkan pernah bertanya,
bagaimana aku pantas mencintaimu,
bahkan dalam mimpi aku pun ragu.
Selasa, Maret 15, 2011
Kuhentikan dulu
kau memasang langkah di kakiku
memasang ayun di lenganku
agar aku menjauh dan merindukanmu...
Purnamaku, sedang hujan di sini.
Kisah ini kuhentikan dulu untuk sementara,
jangan khawatir aku akan tetap melanjutkan bercerita
padamu sembari menyimpan harapan kelak akan
merajut cerita bersamamu.
Cinta saja tak cukup
... Hujan tidak pernah datang dan pergi diam-diam,
tidak seperti salju di negeri-negeri utara yang sering dia ceritakan.
Dan dalam setahun ini,
aku sudah bisa membedakan dan hapal mana hujan yang datang sejenak,
mana yang akan bertahan 2 hingga 3 hari,
dan kapan hujan yang terputus-putus, reda sejenak,
seperti orang yang sedang menangis, diam tiba-tiba hujan lagi.
Ya, saya percaya bahwa dalam hidup ini, cinta saja tidak cukup.
Cinta dapat dikalahkan oleh keadaan.
Memimpikanmu
... Saya tidak tahu makna mimpi semalam baik atau justru sebaliknya.
Yang saya tahu, saya ingin memimpikanmu lagi lebih lama,
hingga esok atau suatu saat nanti...
Selamat pagi, Semesta.
~ Thiya Renjana ~
Bandung, 15032011
habis mimpi akad nikah dan mengontrak rumah kecil-kecilan :D
Minggu, Februari 06, 2011
Kamis, Desember 30, 2010
Doa di antara 2 Khutbah
Dengan segala kerendahanku
atas segala kuasaNya di semesta.
Aku memohon di antara 2 khutbah
Agar jika kebahagiaan itu ada,
aku ingin dirimu selalu merasakannya.
~ Syahroel Kariem ~
Ba'da Jum'at
Kamis, Desember 23, 2010
Pagi, temani aku
Pagi.
Aku yang terbangun di antara sepi
Maukah kau temani untuk esok lagi dan lagi?
Aku tidak mau menemanimu hanya untuk sekedar esok lagi dan lagi
Karena aku ingin selalu menemanimu
Hingga tidurku tak berhias mimpi lagi
Bagai pagi tak berhias mentari
Dan aku akan menggenggammu erat-erat
Dengan dan dalam hati...
~ Thiya Renjana ~
Sabtu, Oktober 23, 2010
Hamparan Padi, Ciwidey
Sedang menikmati mentari terbit di tengah bebukitan dan hamparan hijau padi.
Membiarkan dinginnya puncak Ciwidey menghibur dengan caranya sendiri.
Andai kau di sini
.........
~ Ciwidey, Kamis 21102010 ~
Kamis, Juli 01, 2010
Hujanku, Kamu...
Hujan itu bentuk pelepasan rindu langit pada bumi...
Langit cinta bumi,
Langit cinta bumi,
Maka ia mengirimkan hujan untuk merengkuh bumi.
Dan kamu,
Dan kamu,
adalah hujan yang dikirimkan langit untukku. . .
^_^
~ Thiya Renjana ~
Langganan:
Postingan (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||














“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)