Jika bintang, punya banyak cerita tentang indahnya terang, maka gelaplah yang menampakkannya.
Jika pelangi, selalu melukis warnawarni, maka mendunglah yang mengawali hadirnya
Jika sukses, selalu beraroma kesenangan, maka kebanyakan ia datang dari perjuangan panjang
Banyak indah bermula dengan susah, dan hanya ada 1 sedih di antara 2 bahagia
~ Thiya Renjana ~
Tampilkan postingan dengan label Purnama Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purnama Kata. Tampilkan semua postingan
Minggu, Juli 03, 2011
Habis Kesulitan Ada Kemudahan
Rintik: Purnama Kata
Senin, Juni 06, 2011
Menutup
...
Perempuan itu memandang jauh senja merah saga yang semakin menghitam tua.
Tangannya menarik tirai. Teramat perlahan.
Tak jelas, dia benar-benar tengah menutup jendela atau hatinya sendiri.
~ Thiya Renjana ~
Padmasana sunyi, Bandung
06 Juni 2011 M/05 Rajab 1432H - 06:52PM
Rintik: Purnama Kata
Kamis, April 21, 2011
Bergegas Hujan
... Listrik padam, guntur, dan hujan deras. Kau menyuruhku bergegas. Bergegas kemana? Bisu. Ini bukan kebisuan. Kunamakan ini kerinduan.
padmasanaku, Bandung
21042011-06:25PM
... Listrik padam, guntur, dan hujan deras. Kau menyuruhku bergegas. Bergegas kemana? Bisu. Ini bukan kebisuan. Kunamakan ini kerinduan.
padmasanaku, Bandung
21042011-06:25PM
Rintik: Purnama Kata
Minggu, April 03, 2011
Kalahkan Rinduku
Bintang dan bulan berlomba.
Siapa yang bisa kalahkan merindu sebanyak aku rindu.
Lalu kemudian, suara gerimis kembali mengambil alih.
~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 02042011
Rintik: Purnama Kata
Kamis, Februari 10, 2011
Hatimu Padaku
Apa dia masih datang padamu guna ingin mengambil hatimu?
Kasihan…
Ya sudah, kasih tahu dia, bahwa hatimu ada padaku.
~ Thiya Renjana ~
Rintik: Purnama Kata
Jumat, Januari 28, 2011
Kebaikan itu Kamu
Teman yang baik adalah ia yang berkata benar,
bukan membenarkan tiap perkataan.
Cinta yang baik adalah cinta yang berkorban demi harapan,
bukan mengorbankan harapan.
Dan hidup yang baik adalah hidup yang selalu memberikan arti,
bukan mencari arti hidup.
Dan perlu kamu ketahui,
semua kebaikan itu,
adalah dirimu
.....
Rintik: Purnama Kata
Sabtu, Juli 17, 2010
Selamat Malam
Baru semalam sepi mengunci diri.
Lalu bulan tertawa dan kirim salam.
Angin berbisik-bisik genit.
Katanya selamat mimpi
~ Thiya Renjana ~
Bandung...
Rintik: Purnama Kata
Kamis, Juli 08, 2010
Hujan bulan Juli
Hujan basah di Juli yang kering mendesah tepian beranda
Renyainya mampir mengecup ayunan tua
Aku tak memasang tirai pekat yang bisa menutupi kisi-kisi hati
Namun rinai yang terus tumpah dari kubah angkasa
Mereka datang dengan mata basah
Menyisip dengan gelegar tak menepi
Hingga membuatku harus menunda hari ini
Thiya Renjana
--Bandung hujan di Juli yang seharusnya kering--
--Bandung hujan di Juli yang seharusnya kering--
Rintik: Purnama Kata
Selasa, Juni 22, 2010
Tak perlu lagi takut
Andai saja cinta itu bisa dilihat
Andai saja cinta itu bukan sesuatu yang abstrak,
Andai saja cinta itu bukan sesuatu yang abstrak,
Aku ingin cinta itu seperti hati
Kemanapun akan selalu dibawa pergi.
Hingga kita tak perlu lagi takut kehilangan cinta…
~ Thiya Renjana ~
22062010, 02:42 PM
Ruang kerja, Palasari Bandung
Rintik: Purnama Kata
Minggu, Juni 20, 2010
Bandung Hujan Lagi
Bandung hujan lagi
Kecipak genangan bebas menguyupi telapaknya.
Kepada bumi ia rebahkan badannya
Di atas batu yang dinaungi pohon yang rindang
Rerumputan menghijau
Renyai hujan basah
Dihiasi keindahan bunga-bunga yang sedang mekar
Tak ada yang ditunggunya
Selain kematian....
~ Thiya Renjana ~
Ruang Kerja, Palasari Bandung
Rintik: Purnama Kata
Rabu, April 07, 2010
Dawai terakhirnya
Pernahkah kau bayangkan
Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram hujan
Adalah wujud rinduku yang luruh dalam riuh
Dimana kurekat erat binar biru hatiku
Kutitipkan di sana embun kenangan kita
Pernahkah kau bayangkan
di setiap rentang gerimis senja
Ada namamu dan mataku
meriak luluh tanpa harus terlipat
Bersenda dengan segenap tengadah kala hujan tiba
Pernahkah kau bayangkan
pelangi malu merekam jejak kita
Tawa, amarah, tangis jadi warna di kanvasnya
Dan aku menari-nari dengan segala ruh
Mendendang namamu dan gerimis hujan
Lalu kini aku percaya
Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan
Sampai ia tiba di depan mata
Kita tak pernah menyadari ketidaklengkapan
Hingga bersua dengan kepingan diri yang tersesat dalam waktu
Pernahkah kau bayangkan
Dawai terakhirnya, berlirih tipis,
"Engkau bahagia bersamaku"
dan aku percaya kini
.............
Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram hujan
Adalah wujud rinduku yang luruh dalam riuh
Dimana kurekat erat binar biru hatiku
Kutitipkan di sana embun kenangan kita
Pernahkah kau bayangkan
di setiap rentang gerimis senja
Ada namamu dan mataku
meriak luluh tanpa harus terlipat
Bersenda dengan segenap tengadah kala hujan tiba
Pernahkah kau bayangkan
pelangi malu merekam jejak kita
Tawa, amarah, tangis jadi warna di kanvasnya
Dan aku menari-nari dengan segala ruh
Mendendang namamu dan gerimis hujan
Lalu kini aku percaya
Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan
Sampai ia tiba di depan mata
Kita tak pernah menyadari ketidaklengkapan
Hingga bersua dengan kepingan diri yang tersesat dalam waktu
Pernahkah kau bayangkan
Dawai terakhirnya, berlirih tipis,
"Engkau bahagia bersamaku"
dan aku percaya kini
.............
Bandung, 08042010 08:14 AM
Aku mencintaimu, tanpa batas waktu...
Aku mencintaimu, tanpa batas waktu...
Rintik: Purnama Kata
Selasa, April 06, 2010
Musim hujan hampir berakhir
Musim hujan berangsur mereda
Saatnya kembali bersenda dengan senyap
Tak usah khawatir kasihku,
Dengannya aku bisa menghargai ketidakhampaan
Dia akan mengajari banyak hal...
Bandung, 07042010 10:50 AM
Rintik: Purnama Kata
Kamis, Januari 07, 2010
Andai waktu tiba
[Yang kesekian] Untuk kau; khayalanku,
Andai waktu tiba menjemputku, aku
berharap satu di akhir
hidupku.
Aku masih bisa melihat senyummu.
Tertawa pada pejaman mataku.
Andai waktu tak ingin lagi bersamaku
Aku hanya minta padamu
peluklah aku erat-erat dalam dekapanmu
Sampai aku berkata,
selamat tinggal kasihku...
Andai aku tak lagi mampu berdiri
tak mampu melihat dan menangis
dan tak mampu berkata cinta lagi
Kuharap kau masih mau membimbingku
Tuk katakan padamu
bahwa aku masih mencintaimu
Hanya mencintaimu!
Andai waktu tiba menjemputku, aku
berharap satu di akhir
hidupku.
Aku masih bisa melihat senyummu.
Tertawa pada pejaman mataku.
Andai waktu tak ingin lagi bersamaku
Aku hanya minta padamu
peluklah aku erat-erat dalam dekapanmu
Sampai aku berkata,
selamat tinggal kasihku...
Andai aku tak lagi mampu berdiri
tak mampu melihat dan menangis
dan tak mampu berkata cinta lagi
Kuharap kau masih mau membimbingku
Tuk katakan padamu
bahwa aku masih mencintaimu
Hanya mencintaimu!
Rintik: Purnama Kata
Jangan kau titipkan rindu
Hujan hanyalah badai
bagi puisi-puisi di pasir
Rintiknya kan menghapus makna
Derasnya mmusnahkan dahaga
Wahai purnama
Jangan titipkan rindumu pada bunga atau pepohonan yang rapuh
Karena suatu saat daun-daunnya akan gugur, dan
Harumnya akan hilang begitu saja
Wahai purnama yang kupuja
janganlah kau titipkan rindumu
pada air yang mengalir deras di muara samudera
karena rindu itu tak kan sampai ke tepianku, tempatku menunggu
Ia malah akan lebih jauh dari telaga hatiku
Menuju lautan yang berhamparan batu-batu salju
Hingga rindu itu akan terus membeku
Tiada pernah luluh
.....
Rintik: Purnama Kata
Jumat, Januari 01, 2010
Dialog Dua Hati [2]
: Purnama,
Sedalam samuderakah
Seluas langit di angkasa
Engkau mengharapnya
atau.. hanyalah seberkas cahaya senja
Kau hadirkan ia dalam malam yang indah
Dalam purnama, yang aku sendiri melupakanmu tak pernah
Aku berharap kau takkan menyentuhku
Bila kau tak bisa
dan.. jangan siksa aku begini
Bila, kau telah berubah
Aku ingin kau pahami di setiap tangisku
Oh..
Apa ada salah dengan jiwaku
Mengerti kau begitu tabah
Kau yang slalu menengadah
pada Dia Yang Paham S'gala Gundah
Dalam fajar, senja dan dhuha
Kau melintas bak lentera yang indah
Kala dunia tak pun cerah
Menanti kau berubah
Adalah takkan lelah
: Bintang,
Nyata...
Aku hanyalah sirna
Bak cahaya di purnama
yang indah,
di latar gerhana
Meraba setiap hempasan sapa
Mencari butir-butir ketegaran
Di antara mutiara-mutiara runtuhan
Yang resah, bagai mereka yang kalah
Ah..
Kenapakah kau tak mendesah
Padakulah yang resah
Kenapakah harus kau kunci
Gudang-gudang Qorun yang musnah
Kenapa kau tak merasa
Pada apalah jiwa tak lega
Tak kah kau mendekap aku
dalam aku yang lelah
Tak mampu melangkah
bagai sayap-sayap itu telah patah
Dan..
Kenapakah kau harus hadir untuk aku
Aku yang tak tahu
Fata.. atau,
aku yang tak rela
Bilakah kau harus tuk dia
Sedalam samuderakah
Seluas langit di angkasa
Engkau mengharapnya
atau.. hanyalah seberkas cahaya senja
Kau hadirkan ia dalam malam yang indah
Dalam purnama, yang aku sendiri melupakanmu tak pernah
Aku berharap kau takkan menyentuhku
Bila kau tak bisa
dan.. jangan siksa aku begini
Bila, kau telah berubah
Aku ingin kau pahami di setiap tangisku
Oh..
Apa ada salah dengan jiwaku
Mengerti kau begitu tabah
Kau yang slalu menengadah
pada Dia Yang Paham S'gala Gundah
Dalam fajar, senja dan dhuha
Kau melintas bak lentera yang indah
Kala dunia tak pun cerah
Menanti kau berubah
Adalah takkan lelah
: Bintang,
Nyata...
Aku hanyalah sirna
Bak cahaya di purnama
yang indah,
di latar gerhana
Meraba setiap hempasan sapa
Mencari butir-butir ketegaran
Di antara mutiara-mutiara runtuhan
Yang resah, bagai mereka yang kalah
Ah..
Kenapakah kau tak mendesah
Padakulah yang resah
Kenapakah harus kau kunci
Gudang-gudang Qorun yang musnah
Kenapa kau tak merasa
Pada apalah jiwa tak lega
Tak kah kau mendekap aku
dalam aku yang lelah
Tak mampu melangkah
bagai sayap-sayap itu telah patah
Dan..
Kenapakah kau harus hadir untuk aku
Aku yang tak tahu
Fata.. atau,
aku yang tak rela
Bilakah kau harus tuk dia
Rintik: Purnama Kata
Rabu, Desember 30, 2009
Hujan rindu
Ada rindu kehujanan..
Bukan pada padang ilalang,
tapi pada tabuh batu-batu..
Pada biru [yang] tak lagi biru..
Merata,
membaur bising sungai air mata.
Rindu menahan laju cepat kejora.
Kinar menari-nari di atas pelangi menertawai.
Ah, seharusnya kamu paham,
rindu kehujanan karena menunggumu...
Rintik: Purnama Kata
Jumat, Desember 18, 2009
Senin, Desember 14, 2009
Sayapku patah
Aku mencoba berpaling dari kenyataan
Bahwa hujan itu membuatku menangis
Aku berusaha menjadi diriku yang apa adanya
Dan ternyata aku jatuh dan sakit
Aku tidak percaya keadaan yang harus kutaklukkan
Dan aku jugatak percaya mimpiku yang haru kukorbankan
Aku tak mampu percaya
Bahwa sayapku telah patah...
Rintik: Purnama Kata
Kita serangkaian takdir yang terpencar
Inilah sakit yang pernah kau rasa
Inilah luka yang pernah kuantar padamu
Dan kini kumerasakannnya
Namun entah kenapa
aku menikmati dilema ini
Sekarang aku tak bisa lagi menggapaimu
Karena kau telah tinggi menembus angkasa
Aku ingin kau sadar
Kita adalah serangkaian takdir yang terpencar
Kau sakit maka takdir membagi lukanya dengan jiwaku
Ketika kau tersenyum
maka kau akan melihat senyum di wajahku
Rintik: Purnama Kata
Dalam cerita
Membangun kembali kaba cinta
memuja cita-cita
dan dari kedalaman ngarai,
aku menatap gumpalan awan yang tingi setara
Pohon-pohon flamboyan jajar akasia
Aku diam
Siapapun yang bersemayam di petilasan hati ini
mengingatkan betapa nama cukup dikenang dalam sebuah cerita
Rintik: Purnama Kata
Langganan:
Postingan (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||




.jpg)








“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)