
Jembatan itu tetap tegak pada tugasnya.
Di ujungnya dia menanti ditingkahi gerimis tak sudah,
sedang aku di sisi ini tersaput rindu.
Benar-benar rasa rindu.
Duh Matahari dan Rembulanku,
sampai kapan kalian gantung hatiku?
~ Thiya Renjana ~
Dan semesta baru mulai terbit di ufuk kerinduanku. Tempatku berbagi kata hati. Menulis dengan hati, membaca dengan hati. Hanya hati...

Rintik: Aku dan Sajak
Gurat Sajak oleh Semesta Renjana kala 01.43
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar