![]() |
| Lokasi: Bangunan Seribu Jendela, Gedung Sate Bandung, Jawa Barat |
Kupungut sisa kabut di udara; yang luput dari nafasmu
entah dendam entah cinta; kemudian melimpah menjadi hujan
kupungut sisa waktu di ruang tunggu; yang luput dari denyut jantungmu
entah muslihat entah ketulusan; kemudian menjadi abad
kupungut semua kupu-kupu; yang luput dari sergapan jalamu
lalu aku benamkan di sebuah taman; bersama bunga-bunga
kemudian menjelma menjadi layang-layang
kupungut semua kata-kata; yang luput dari arus darahmu
kujadikan peta dari setiap langkahku
~ Thiya Renjana ~

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
4 Jejak:
kupungut resah di sudut matamu
kupungut gelisah di diammu
lalu, layarkan semua pilu bersama angin
bersama layang-layang yang melayang
mengambat benang kenang yang tak jua tiada, menghapus sebuah kisah yang terlanjur menjadi sejarah, dan melelapkan sebuah mimpi yang tak pernah mati
sepucuk kenang terjatuh peluh...
pun,sekisah lembaran meluruh
Posting Komentar