Sabtu, Desember 03, 2011
Kertas Tak Berwarna
Kertas tak berwarna tapi tersibghah cahaya Illahi.
Yang di tiap coretan tintanya menyisip doa untukmu lagi dan lagi.
Kamu mungkin tak tahu, tapi namamu terlanjur menjadi puisi.
Di dada sebelah kiri.
~ Thiya Renjana ~
29 November jam 20:39
Rintik: Pangeran Hati
Minggu, November 20, 2011
Bertemu Kembali Dewa
TR
... Seringkali aku merasa, bahwa dapat bertemu denganmu adalah juga termasuk salah satu doaku yang terkabulkan.
ATM
Setiap waktu kucoba berlari namun bayangnya terus menertawakan keangkuhanku. Kini dia kembli dalam wajah barunya...
saat itu semua berdawai dalam nyanyian hati, rindu, bahagia bahkan tersenyum yang merekah.
TR
Wajah baru yang tentu lebih pandai menggagahkan diri, dari tempa jejalan luka juga patah hati.
ATM
Namun wajah yang pandai itu masih memberikan senyuman kecil walau dahulu dia memalingkan wajahnya sendiri dari tatapan dewa.
TR
Tentu saja, senyuman kecil itu adalah kemenangan hatinya. Sebab ini hidupnya, ia yang akan membuatnya menyenangkan. Sendirian.
ATM
Senyuman bukan hanya untuk dirinya tapi ada kebahagian yang dimiliki ornag di sampingnya. Senyummu telah menawarkan air susu yang tinggal setetes...
Mentari masih menemaniku di sini sambil menunggu angan yang membawakan sosok jubah ungunya.
TR
Tetesan air susu yang telah tawar itu akan menjadi getah-getah yang membungkam kenangan. Lalu kenapa tidak kau ganti saja dengan air susu yang masih baru? Yang manisnya sampai ke ujung rinduku?
ATM
.....angkuh katanya sedang dalam jalanku hanya ada terjal yang menjatuhkan langkahku. Apa salah jika diriku angkuh dalam menaklukkan dunia, sedang akulah pemimpin.
Air susu itu telah lama tak kutemukan cuma danau kering yang tawar kuminum, sedang aku masih kehausan dalam ketenangan. Kau telah membawa semua air susu itu sampai tak tersisa .... Lalu bagaimana aku harus menemukannya lagi...
*)Duet bersama Sabri ATM pada status Facebook 20112011 - 11:31AM
Rintik: Bersama Rafik
Selasa, November 08, 2011
Menghitung Rindu
Rintik: Catatan Pinggir
Sabtu, November 05, 2011
Menulis Rindu
Selasa, Oktober 25, 2011
Neraka Dunia
Ah, barangkali Kinanthi benar. Mencintai seseorang yang layak dicintai namun tak pernah engkau miliki adalah neraka dunia. Parahnya, aku pernah merasa memilikimu dan karenanya aku pasti kehilanganmu. Sesungguhnya tak ada manusia yang benar-benar sanggup menghadapai kenyataan. Kita hanyalah berusaha kelihatan tegar, mencoba memindah-mindah titik, tapi tak pernah benar-benar memilih nasib. Jika tanpamu adalah senyatanya kepedihan, bukankah hal itu telah benar-benar kulakukan?
~ Bahauddin Amyasi ~
Selasa, Oktober 04, 2011
Takdir Yang Selesai

menyaingi jumlah pasir lembut yang menumpahi lidah-lidah pantai di sepanjang batas Siring Kemuning.
~ Thiya Renjana ~
Bandung, 03102011
Rintik: Yang Selesai
Rabu, September 21, 2011
Sesuatu
... Menjelang dluha, ia membongkar sesuatu dari dalam laci.
Nama Bintang, si Kekasih Puisi.
Diejanya ulang,
dan kemudian ia menyimpannya lagi,
rapi.
21092011 - 07:00AM
Rintik: Aku dan Sajak
Pesan Singkat Kak Baha
Jika muasal kita adalah ketiadaan, mengapa kehilangan kerap terasa begitu menyakitkan? Waktu seolah berderap terlampau cepat, dan denyut hasrat kita kian sekarat...
31/08/2011-04:13PM
Ah, sebab rindu kerap tak mau tau bagaimana dua kalbu harus bertemu. Wajahmu tiba-tiba menyatu di awan biru. Angin merapal senyummu yang kian sendu. Bagaimana aku bisa melupakanmu?
31/08/2011-07:07PM
Selama nadi hidup masih berdenyut, isu adalah angin yang akan selalu kita hirup. Terasa sesak, tapi disitulah kita belajar bahwa hidup bukan melulu soal tawa dan gelak. Yang paling mudah dilakukan mungkin adalah berdoa, karena di seberang luka selalu ada bahagia. Seperti kudoakan untukmu. Selalu.
08/09/2011-06:41AM
~ Bahauddin Amyasi ~
via pesan singkat mobile
Jumat, September 09, 2011
Ini Cinta
Ada saatnya yang terbaik untuk dilakukan hanyalah benar-benar diam.
Tertawa sendirian, membincangi denyut ingatan dan mimpi usang yang terlanjur keterlaluan.
Mereka mengataiku gila, tapi ini benar-benar cinta.
Mereka menganggapmu fatamorgana, tapi sungguh engkau begitu nyata.
Engkaupun mulai tak percaya, bagaimana bisa?
~ Bahauddin Amyasi ~
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||




“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)