Sedang menulis rindu, agar tak lagi bisa hilang. Ataupun usang di sisi jendela.
Mungkin aku tak cukup berani merawat rindu sebesar itu.
Tapi cintaku menyimpan telaga, yang kita arungi menembus lintasan rahasia.
Tersebab kamu adalah cinta. Yang kupinta setiap sujud panjang malam dan dhuha. Yang tak bergeser menempati dada.
~ Thiya Renjana ~
Bandung, 06112011 - Aidil Adha

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar