Rabu, Juli 20, 2011
Seribu Damba Untukmu
... Untukmu, seribu damba yang
melekat pada lukisan bumi kualamatkan.
Biar cintaku terjawab.
Dan kamu bebas kupeluk erat.
... Terkadang datang ragu, coba tepiskan indahmu.
Terkadang kupeluk bayangmu yang semu,
kupandangi fotomu berharap kau melihatku.
Ratusan malam kuhabiskan menunggu,
berharap engkau hadir di depan pintu.
~ Thiya Renjana ~
Bandung, 16 Juli 2011-16:06PM
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar