Rabu, Desember 30, 2009
Hujan rindu
Ada rindu kehujanan..
Bukan pada padang ilalang,
tapi pada tabuh batu-batu..
Pada biru [yang] tak lagi biru..
Merata,
membaur bising sungai air mata.
Rindu menahan laju cepat kejora.
Kinar menari-nari di atas pelangi menertawai.
Ah, seharusnya kamu paham,
rindu kehujanan karena menunggumu...
Rintik: Purnama Kata
Gurat Sajak oleh Semesta Renjana kala 18.56
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
1 Jejak:
indah,...seindah rasa rinduku kepadanya...
Posting Komentar