Inilah sakit yang pernah kau rasa
Inilah luka yang pernah kuantar padamu
Dan kini kumerasakannnya
Namun entah kenapa
aku menikmati dilema ini
Sekarang aku tak bisa lagi menggapaimu
Karena kau telah tinggi menembus angkasa
Aku ingin kau sadar
Kita adalah serangkaian takdir yang terpencar
Kau sakit maka takdir membagi lukanya dengan jiwaku
Ketika kau tersenyum
maka kau akan melihat senyum di wajahku

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar