Aku, aku, saudaraku!
Kata hatiku.
Mengapa aku kulagukan selalu?
Aku dan aku saja…….
Tapi. Bagaimana takkan kulagukan?
Dimana kan kutinggalkan?
Aku ini kutiadakan?
Dimana aku tiada kubawa?
Aku malu dengan aku-ku ini
Jemu sudah . . . tapi
Kepada siapa hendak kuserahkan?
Tidak, tidak, itu hak semata
Yang harus ku pertahankan,
Karena aku-ku itu membawa
Sinar kesedaran
Diri priangga
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar