Hujan basah di Juli yang kering mendesah tepian beranda
Renyainya mampir mengecup ayunan tua
Aku tak memasang tirai pekat yang bisa menutupi kisi-kisi hati
Namun rinai yang terus tumpah dari kubah angkasa
Mereka datang dengan mata basah
Menyisip dengan gelegar tak menepi
Hingga membuatku harus menunda hari ini
Thiya Renjana
--Bandung hujan di Juli yang seharusnya kering--
--Bandung hujan di Juli yang seharusnya kering--
.jpg)
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
2 Jejak:
dikira puisinya sapardi, he he he. terus berkarya neng. nice post
Kalo puisinya Sapardi kan Hujan Bulan Juni...
hehhe... mksh kunjungannya...
Salam...
Posting Komentar