Begitu takut hingga Lazuardy pecah tak ada
Asaku hanya sebatas kabut gerimis
Pekat memang
Semestinya aku berani susuri
Semestinya aku berani..!
Tapi rasa ini teredam bergaung tak bersuara
Karena patah jiwaku tersadar
Aku hanya layak mendekap sunyi
Adakah di pecahan bumi sana, seribu cahaya
Yang akan mengikis gelapku
Hingga dapat kusemat ke setiap sunyi
Meski angin, meski air, pun insan
Tak pernah mampu pahami
Namun kau tetap kukuh, teguh
Sungguh, Aku ingin bebas dari semunya
Bukan sekedar memupus batu puisi yang bermimpi
Meretas jalan menuju bayang cahaya
Berdegup merengkuh sebenar pijar
Untuk jiwa rapuhku.
Untuk jiwaku, jiwa rapuhku
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar