
Kepada siapa hendak kuceritakan
Bahwa aku berpijak tapi tak beranjak
Memupus tulis puisi di atas pasir
Tubuh rapuh tegar berdiri
Melanglang tanpa arah
Susuri malam terpapah awan
meski rebut suara alam
Larut pula acap kesepian
Meniti pelan tak bergerak.
Setiap kali kudekap sunyi
Tak usai pahat penat asaku menggapai
Tapi rasa ini,
Teredam bergaung tak bersuara
Karena patah jiwaku tersadar
Aku hanya layak mendekap sunyi...
Minggu, September 13, 2009
Puisi di atas pasir
Rintik: Aku dan Sajak
Gurat Sajak oleh Semesta Renjana kala 21.41
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar