
Lagi,
Lemah reksa memungut makna
Tercecer di jalan-jalan hutan gelap
Menembus cahaya matahari menyelinap sembunyi
Tak mau aku meminum air mata para ksatria
Yang t'lah bertarung dengan panah aksara
Kemarilah,
Rehat di pondok bambu sanubariku
Kurawat lelahmu dengan nyanyian sunyiku
Hingga tak kau rasa
Di luar telah pekak oleh prasangka
Kita...
Hanyalah penyair kelana...
270207
Minggu, September 13, 2009
Penyair Kelana
Rintik: Aku dan Sajak
Gurat Sajak oleh Semesta Renjana kala 22.54
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar