Rabu, Maret 03, 2010
Sepi
Sepi
Kala kabut hati menyelimuti
dalam alunan lagu keraguan
dalam selesak nafas tak berarti...
mengenang hari-hari menyenangkan
dalam selimut bahagia dan senyuman.
Tak kuindahkan setiap suara menyapa
tak kuhiraukan setiap warna menjumpa
dalam pandang mata dan gendang telinga
tak ada yang kurasa sama sekali
selain sepi....
Tapi,
inilah yang selama ini kucari
berteman sepi sungguh tak terpungkiri
walau ia tak bisa bicara dan meninterogasi
tapi aku faham ia beruntai indah syair sufi
dalam alunan dawai malaikat dan bidadari
menari memainkan lentiknya jari-jemari
menghias angan penuh mimpi
bertajuk introspeksi diri....
tapi sepi tetaplah sepi
walau ia telah berbaik hati menemani
namun suatu hari
ia haruslah pergi
begitulah takdir Illahi
semua bergilir silih berganti
tiada henti
hingga mati!!!
(Shev Hael's, 4 Maret 2010)
*) Habibuddin el-Sabily
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar