Kamis, Januari 14, 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||
Dan semesta baru mulai terbit di ufuk kerinduanku. Tempatku berbagi kata hati. Menulis dengan hati, membaca dengan hati. Hanya hati...
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
1 Jejak:
Gemuruh rindu dalam hatiku
Begitu kencang menderu
laksana peluru emas yg siap memburu
Rinduku padamu membuat jiwa ini tak menentu
Sungguh,
Rindu tlah permainkan kalbuku
Menggoda di tengah sepiku
Menenggelamkanku dalam lamunan palsu
Membuatku, pilu, lesu dan terpaku
Oh..... Dinda!
Gelak tawamu semakin membuatku kangen
Kedipan matamu seakan menjadi hantu gentayangan
Namun...
Tetap saja rindu tak bisa di ganti dengan angan.
Dinda....!
Aku setia menunggumu diatas awan
Dinda............!!
Jeritan dan teriakan rindu dalam hatiku begitu kencang
Selalu memanggil namamu...
Namun jeritan itu ku masukkan dalam penjara hati
Setia menunggu cinta suci
Sampai mati, Ya, sampai mati
Posting Komentar