Sepasang merpati berhati renjana
Terbang beriring di jingga fajar dan senja
Sepasang merpati yg selalu setia
Walau diantaranya ada ajal yang tiba.
Ketika aku mencintaimu
Dan merubah diriku menjadi diri yang lain.
Maafkan,
Bila ketika kucintaimu
Kabut dan duka selalu memagut cinta.
Tapi hatiku yang renjana
Slalu berbaik sangka pada Sang Pencipta.
Seperti merpati yang tak pernah ingkar janji
Drmupun pasti kan mengerti
Hati ini
Masih akan selalu bernyanyi
Terbang beriring di jingga fajar dan senja
Sepasang merpati yg selalu setia
Walau diantaranya ada ajal yang tiba.
Ketika aku mencintaimu
Dan merubah diriku menjadi diri yang lain.
Maafkan,
Bila ketika kucintaimu
Kabut dan duka selalu memagut cinta.
Tapi hatiku yang renjana
Slalu berbaik sangka pada Sang Pencipta.
Seperti merpati yang tak pernah ingkar janji
Drmupun pasti kan mengerti
Hati ini
Masih akan selalu bernyanyi
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar