Dalam tubuh kau berkuasa
Dalam dada kau bertahta.
Tak kenal tamat ketika dinikmati
Maka harus segera kutulis seribu koma
Tak kenal tamat ketika dinikmati
Maka harus segera kutulis seribu koma
Pada cinta yang berlaksa
Pada rindu yang berjuta.
Agar aku mengerti bahwa puisi tak mengenal usia,
menyimpan alamat yang lamat-lamat tak usai-usai.
Bahkan dalam reruntuhan jiwaku
Aku tak tahu di mana kini kau tertimbun.
Suatu saat kelak,
semoga kau akan tau telah bertumbuh sungai lain dalam diriku.
Airnya terus mengalir di kedua mataku.


“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar