dengarlah yang terindah, dengarlah.....
kalau kau yang memanggilku, adakah dapat kutundukkan kepala
dari titah hatimu, dari titah kata-katamu ?
ah, tidak. tidak. Aku tak mampu menundukkan mata dari
titah kata-katamu
sebab kau adalah bagian dari rinduku
meski aku tau, tangan-tangan gaib akan melarangku
bangunlah, yang terindah,
bangunlah.....
tinggalkan air mata pada gua-gua, pada daun yang gugur dari tangkainya
sebab kau tak pantas memuja air mata
adakah kau tau, wahai yang terindah
kau adalah sebuah perhiasan syurga yang dicipta Tuhan
dengan segala kuasa-Nya
kau adalah aksara yang tak bosan aku membacanya
maka bangunlah, yang terindah,
bangunlah...
di matamu ada hidup bagi hidupmu yang akan membuat hari-harimu
jadi lebih berharga
Amiin......
*) Yusuf Wardiman 25 Februari jam 7:54
.
*) Yusuf Wardiman 25 Februari jam 7:54
.

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar