Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk mendengar,namun senantiasa bergetar!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk buta,namun senantiasa melihat & mendengar!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk memaksa,namun senantiasa berusaha!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk cantiq,namun senantiasa menarik!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk dtg dg kata2,namun senantiasa menghampiri dengan hati!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk hanya brjanji,namun senantiasa menc0ba memenangi!
Jika ia sebuah CINTA,
ia mungkin tidak suci,namun senantiasa tulus!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk hadir karna permintaan,namun hadir karna ketentuan!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk hadir karna kekayaan & kebendaan,namun hadir karna peng0rbanan & kesetiaan
ia tdk mendengar,namun senantiasa bergetar!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk buta,namun senantiasa melihat & mendengar!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk memaksa,namun senantiasa berusaha!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk cantiq,namun senantiasa menarik!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk dtg dg kata2,namun senantiasa menghampiri dengan hati!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk hanya brjanji,namun senantiasa menc0ba memenangi!
Jika ia sebuah CINTA,
ia mungkin tidak suci,namun senantiasa tulus!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk hadir karna permintaan,namun hadir karna ketentuan!
Jika ia sebuah CINTA,
ia tdk hadir karna kekayaan & kebendaan,namun hadir karna peng0rbanan & kesetiaan
*) from catatan seorang sahabat Lailatul Fitriyah

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar