Aku menunggu
Engkau datang membayar lunas waktu-waktu
Pada kursi bambu milik senja yang sendu aku terus saja menunggu
Hanya diam yang aku tahu
Tapi bukannya aku lugu
Aku hanya tak tahu
Hati ini kenapa terasa rabu?
Dan aku menunggu
Tanpa tahu kau justru telah berlalu
......
Engkau datang membayar lunas waktu-waktu
Pada kursi bambu milik senja yang sendu aku terus saja menunggu
Hanya diam yang aku tahu
Tapi bukannya aku lugu
Aku hanya tak tahu
Hati ini kenapa terasa rabu?
Dan aku menunggu
Tanpa tahu kau justru telah berlalu
......
02122009_05:03PM.
at Angkot Banjaran, Gerimis.

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar