Biarkan aku menjelma haurimu
Walau angin harus melesapkan embun
Sebab setiap deru suaramu
Berlesir di jelaga jiwaku
Juga kelebat bayang lakumu
Berjalin rapat-rapat di akal sadarku
Sungguh betapa tiada penyisip
Namun aku...
Haruslah puas dengan desau embun dingin
Yang terhela rantaing landai
Karena rasa ini... terantuk takdir
Lalu, siapa salah?

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar