Kamis, Oktober 15, 2009
Entah mengapa hari ini betapa aku ingin menangis.
Entah mengapa hari ini betapa aku ingin menangis.
Arakan mega meneja
meningkahi lembayung jingga
keterapasan jiwa ini
takkah jua kau mengerti?
Manusia tak luput dari kesilapan
Boleh berencana tapi Tuhan jua yang berkehendak
dan kenapa kau masih juga ungkit nasibku?
Harapan-harapanku memang tercetak nyata
dalam tirai di langit senja
tapi hanya menambah pedih luka
karena nyata tak hendak berpihak padaku
Sungguh hanya menambah sesak pilu
Entah mengapa hari ini
betapa aku ingin menangis...
Rintik: Purnama Kata
Gurat Sajak oleh Semesta Renjana kala 22.42
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
1 Jejak:
ada apa gerangan wahai penghuni renjana..
aku ingin mengeja luka sesakmu.
percayalah esok akan
ada cahaya lentera
yang menerangi segenap ruang gelapmu..
esok,nanti dan selamanya!
Posting Komentar