Rembulan berkata;
~ ada Cinta berharap kau sapa
~ ada Cinta menanti kau tempa
Saat kau mulai takut akan diterpa kegelapan,
di situ rembulan berusaha menjadi lentera sederhana
berusaha menyingkap awan-awan pekat membahana
walau kadang gerhana menyelimuti
Adalah bahasa yang tak sedikitpun diasa
Karena kejujuran lebih indah walau kenyataan tak seperti yang didamba.
Bukan karena waktu,
tapi karena hati yang telah membatu
menunggu datangnya sesuatu
Entah apa
*Zahrahan
Jumat, September 18, 2009
Rembulan berkata
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)
0 Jejak:
Posting Komentar