Selasa, April 05, 2011
Sajak Bebuku, episode satu
/I
... Namamu kubaca dengan jelas.
Antara abu-abu pudar dan keemasan.
Pada jilid buku yang takkan usai kubaca.
Lalu robek di halaman ke duapuluhdelapan.
/II
... Pikirannya berhenti di paragraf itu.
Kenapa harus diserahkan begitu saja kepada langit?
Ia merasa memilih buku yang salah.
Mungkin harus mundur lebih jauh lagi.
Dan benar saja, sudut itu muncul tanpa permisi.
Pengap dan basah.
/III
... Itulah satu-satunya kesalahanmu.
Membawa buku yang salah ke meja kasir.
Bisakah kita kembali ke rak dan tidak perlu membaca?
/IV
.. Tergelak di halaman ke sekian.
Hidup ini semakin lucu, seperti kata buku.
Saling bertemu dan saling melupakan menjadi tak ada beda.
Sama-sama memilukan.
~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 05042011 : ba'da Isya
Rintik: Aku dan Sajak
Gurat Sajak oleh Semesta Renjana kala 19.36
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||






“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)


2 Jejak:
indah
yups indah...
Posting Komentar