.....
Meski aku berdiri di bibir pantai kemuning
lalu meneriakkan namamu keras-keras,
tak ada angin yang mau mengantarkannya ke telingamu.
Dan hujan luruh. Bukan dari langit, tapi mataku.
Hingga rindu bergegas merengsa abu.
Aku buru-buru sadar, semua selesai.
Menjelma seperti maumu.
.....
Seperti bulan memeluk matahari hanyalah ingin.
Seperti aku sandarkan lelah padamu namun tak mungkin
~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 30032011-19:16PM






“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)


0 Jejak:
Posting Komentar