Kembali melandas di malam Minggu.
Puncak hujan perak berjatuh satu-satu.
Puisiku buntu tepat di lamun yang sama.
; Sudut tawamu.
Sudut tawamu, depan kedai sore itu,
dan pasar suri yang enggan.
Aku pulang mengemas rindu.
Tak menoleh lagi.
~ Thiya Renjana ~
Padmasanaku, Bandung. 02042011






“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang dungu (sesat). Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya) ? kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-227)


0 Jejak:
Posting Komentar